Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare-kare di Desa Tenganan

perang pandan mekare-kare

by @manbutur_people_culture

Banyak tradisi unik dan menarik yang bisa disaksikan selama berada di Pulau Dewata Bali. Tradisi merupakan salah satunya. Tradisi ini merupakan sebuah budaya leluhur yang berusaha dijaga secara turun temurun oleh masyarakat Bali yang tinggal di Desa Adat Tenganan Pegringsingan. .

Mekare-kare atau yang biasa disebut Mageret Pandan juga dikenal dengan istilah Perang Pandan Mekare-kare adalah tradisi yang berlaku sejak turun temurun di Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Jika Anda sedang berkunjung ke Desa Adat Tenganan Pegringsingan dan menyaksikan Mekare-kare tersebut sedang dilangsungkan, maka akan menjadi sebuah pengalaman yang berharga dan tak terlupakan bagi Anda.

perang pandan mekare kare 1 Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

by @exploresther

baca juga: Restoran Metis Petitenget, Pilihan Tempat Makan Romantis di Kuta

Tradisi Perang Pandan Mekare-kare Bagian dari Upacara Keagamaan

Tradisi ini merupakan rangkaian upacara keagamaan yang dilakukan ketika upacara Sasih Sembah digelar. Upacara Sasih Sembah merupakan upacara terbesar yang diselenggarakan hanya sekali dalam setahun. Sedangkan Mekare-kare dihelat selama 2 hari mulai pukul 2 sore di halaman Balai .

Kaum pria menggunakan pakaian adat madya terdiri dari sarung, selendang, serta ikat kepala tanpa memakai baju atau hanya bertelanjang dada. Sedangkan para perempuan memakai pakaian khas Tenganan yang berupa kain tenun Pegringsingan.

perang pandan mekare kare 2 1024x1024 Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

by @santaisious

baca juga: Menelusuri Wisata Budaya Bali di Desa Adat Tenganan Pegringsingan

Seperti namanya Perang Pandan, maka senjata yang digunakan adalah pandan berduri yang diikat. Pandan ini sebagai simbol sebuah gada yang dilengkapi dengan sebuah perisai yang terbuat dari rotan yang dipakai untuk tameng.

Perang Pandan Mekar-kare Diikuti oleh Pria dengan Tanpa Rasa Dendam

Perang Pandan Mekare-kare hanya boleh diikuti oleh kaum pria yang mulai menginjak usia dewasa. Sebelum acara puncaknya dimulai, seluruh peserta berkeliling desa untuk memohon keselamatan.

Saat perang berlangsung, peserta berdiri berhadap-hadapan satu lawan satu. Setiap peserta membawa seikat daun pandan di tangan kanan dan perisai pada tangan kiri serta seorang wasit berada ditengah-tengah kedua peserta.

perang pandan mekare kare 3 Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

by @manbutur_people_culture

Ketika aba-aba dimulai, kedua peserta dengan serta merta saling serang dengan saling merangkul sambil memukulkan pandan di punggung lawan. Sambil dipukulkan, pandan tersebut juga digosokkan/digeretkan oleh karenanya disebut Upacara Mageret Pandan.

Tak terbayang bagaimana perihnya duri-duri pandan itu menancap dan melukai punggung-punggung peserta. Namun di sinilah letak adu nyali setiap peserta diuji. Mekare-kare ini hanya berlangsung selama satu menit diiringi dengan musik gamelan yang memacu semangat.

baca juga: Berkunjung ke Desa Adat Penglipuran Bali, Desa Terbaik Sedunia

Semua peserta bergantian berperang dan prosesi ini berlangsung sekitar 3 jam. Selesai prosesi, luka di punggung peserta diobati dengan obat-obatan tradisional. Setelah selesai perang, tak ada dendam sekalipun dalam hati tiap peserta karena Mekare-kare adalah tradisi untuk upacara persembahan yang harus dilakukan dengan tulus ikhlas.

perang pandan mekare kare 4 Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

by @manbutur_people_culture

Warga Desa Tenganan adalah penganut agama Hindu seperti kebanyakan masyarakat Bali pada umumnya. Namun yang menjadi dewa tertinggi mereka adalah Dewa Indra berbeda dengan warga lainnya yakni dewa Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, Siwa sebagai dewa tertinggi.

Oleh karena itu, Perang Pandan Mekare-kare ini dihelat sebagai penghormatan kepada Dewa Indra sebagai Dewa Perang selain untuk menghormati para leluhur. Biasanya digelar pada bulan Juni bertepatan dengan upacara Ngusaba Kapat (Sasi Sembah).