Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar, Pura Bersejarah dengan Nuansa Hijau

Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar

via suarapura.com

Jika berlibur ke Bali, sempatkan untuk datang ke . Tak hanya sebagai bangunan suci umat Hindu, pura ini memiliki keunikan tersendiri. Oleh karenanya bisa menjadi alternatif pilihan wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar berada di wilayah Banjar Sebatu, Desa Sebatu, Tegalalang, Gianyar, Bali. Objek wisata spiritual ini memiliki lahan seluas 5000 meter persegi dan sudah mulai dikunjungi para wisatawan sejak tahun 1970-an. Hingga sekarang pun masih banyak wisatawan yang datang berkunjung.

Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar 3 1024x680 Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar, Pura Bersejarah dengan Nuansa Hijau

via suarapura.com

Lingkungan di Pura Gunung Kawi Sebatu ini masih sangat alami dan asri. Bahkan tepat di belakang pura terdapat tebing dan hutan sehingga terkesan hijau dan memberi nuansa sejuk segar.

baca juga: Pura Pucak Tedung, Pura Bersejarah Penuh dengan Cerita Mitos

Seperti pura pada umumya, Pura Gunung Kawi Sebatu juga menganut sistem Tri Mandala yaitu terdiri dari bagian Jaba Pura, Jaba Tengah dan Jeroan. Pada bagian Jaba Pura (halaman luar), terdapat pemandian umum yang sering digunakan oleh warga sekitar untuk mandi.

Pemandian ini memiliki kolam yang cukup luas dengan air yang sangat jernih dan menyegarkan serta dilengkapi dengan pancuran-pancuran. Posisi kolam pemandian berada di bagian kanan kompleks Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar.

Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar 2 1024x683 Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar, Pura Bersejarah dengan Nuansa Hijau

via suarapura.com

Terdapat juga kolam ikan yang berisi ikan koi dengan berbagai jenis dan ukuran. Kolam ikan ini dikeramatkan sehingga siapapun tidak ada yang boleh mengambil atau menangkap ikan di kolam ini.

baca juga: Bukit Guungan Candidasa Karangasem, Pilihan Wisata Alam Baru yang Instagrammable

Di halaman luar pura juga terdapat sebuah aula terbuka. Aula ini dipergunakan sebagai tempat untuk rapat penduduk Desa Sebatu. Juga bisa digunakan sebagai tempat istirahat oleh para pengunjung sambil menikmati keindahan suasana yang ada di pura.

Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar 4 1024x623 Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar, Pura Bersejarah dengan Nuansa Hijau

via suarapura.com

Sejarah Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar

Pura Gunung Kawi Sebatu diperkirakan dibangun pada tahun 1300 Setelah Masehi hingga tahun 1500 Setelah Masehi. Menurut sejarah, Pura Gunung Kawi Sebatu didirikan sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu atas perintah Rishi Markandeya.

Rishi Markandeya adalah seorang guru (Maharishi) yang menyebarkan agama Hindu dari Pulau Jawa. Beliau merupakan orang dari Kerajaan Majapahit yang mempunyai pengaruh di Nusantara hingga Kerajaan Bali juga.

Makna nama Pura Gunung Kawi Sebatu berasal dari kata “Gunung” dan “Kawi yang berarti dibuat” serta “Sebatu” yang merujuk pada nama desa tempat pura ini dibangun.

Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar 1 Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar, Pura Bersejarah dengan Nuansa Hijau

via suarapura.com

baca juga: Desa Pinggan Kintamani, Wisata Alami Penuh Kesejukan di Dataran Tinggi Bali

Pura ini termasuk “Dhang Kahyangan” yang berarti semua umat Hindu di Bali boleh melakukan ibadah di pura ini. Sehingga bukan hanya penduduk Desa Sebatu saja yang boleh beribadah di pura ini namun seluruh umat Hindu di Bali diperbolehkan untuk bersembahyang di sini.

Karena merupakan lokasi yang disucikan, pengunjung yang datang diwajibkan memakai pakaian adat. Di area loket masuk sudah disediakan kain untuk dipinjamkan kepada pengunjung selama berada di kawasan Pura Gunung Kawi Sebatu.

Tiket Masuk Pura Gunung Kawi Sebatu Gianyar

Harga tiket masuknya termasuk murah yaitu Rp 15.000 untuk orang dewasa dan Rp. 7.500 bagi anak-anak. Karena pengelolaan objek wisata ini dilakukan oleh Dinas Pariwisata Gianyar, maka pengalokasian retribusi tiket masuk tersebut 60 % masuk ke Kabupaten Gianyar dan 40 % masuk ke Desa Sebatu.

Berkunjung ke Pura Gunung Kawi Sebatu bisa menjadi pilihan wisata menarik untuk mengetahui sejarah dan budaya lokal yang harus tetap dilestarikan.