Asta Kosala Kosali. Tata Cara Penataan Lahan Tempat Tinggal & Bangunan Suci Tradisional Bali


1
1 point

Asta kosala kosali sebagai aturan yang digunakan dalam arsitektur Bali mirip dengan Fengshui pada budaya Cina untuk aturan tata letak ruangan dan bangunan. Menunjukkan aturan tata letak dan bentuk-bentuk tempat pemujaan maupun bangunan perumahan. Aturan mengenai bentuk-bentuk pelinggih, ukuran panjang, lebar, tinggi, dan pepalih. 

Apa Itu Asta Kosala Kosali?

Apa Itu Asta Kosala Kosali
Sumber: rekreartive

Bagian dari kearifan lokal Hindu khusus di Bali sebagai sebuah tatacara tata letak dan tata bangunan suci yang ada di Bali sesuai landasan filosofis, etis, dan ritual. Memperhatikan konsep Tri Hita Karana, yaitu pemilihan lahan, hari baik pembangunan dalam kaitannya dengan harmonisasi alam. Aturan menjadi pedoman kerja yang dipakai bagi seorang Undagi. 

Konsep Arsitektur Bali 

Pengaturan pada tata letak, tata cara, dan tata bangunan pada rumah tinggal atau tempat beribadah didasarkan pada Sembilan Penguasa atau Nawa Sanga di setiap penjuru mata angin. Mengenai aturan konsep tata ruang dilandasi dengan delapan hal, seperti keseimbangan kosmos antara manusia, alam, dan sang pencipta. 

Baca Juga: Keunikan Rumah Adat Khas Bali

Berurutan tata nilai, arah mata angin, ruang terbuka, proporsi dan skala ruang, kronologi dan prosesi pembangunan. Lalu, kejujuran struktur dan kejujuran dalam menggunakan material. Dalam aturan tersebut mengajarkan Undagi bagaimana cara membangun itu bisa mencapai keharmonisan dan keseimbangan, meliputi alam bawah, alam tengah, dan alam atas. 

1. Konsep Keseimbangan Kosmos

Konsep Arsitektur Bali

Kepercayaan masyarakat Hindu Bali jika bangunan memiliki jiwa bhuana agung atau alam makrokosmos), bhuana alit (mikrokosmos) ialah manusia yang menempati bangunan. Memperoleh keseimbangan maka, bangunan harus harmonis antara manusia (mikrokosmos) dan bangunan yang ditempati makrokosmos. 

Kosmologi Bali dapat digambarkan secara berurutan adalah Bhur alam semesta tempat bersemayam para dewa. Bawah alam manusia dan kehidupan harian penuh godaan duniawi berkaitan dengan materialisme. Alam nista menjadi simbolis keberadaan setan dan nafsu selalu menggoda manusia untuk berbuat menyimpang dari dharma disebut Swah.

Konsep pembangunan rumah adat Bali dengan aturan asta kosala kosali juga berpegang pada mata angin. Nawa sanga atau 9 mata angin dimana setiap bangunan mempunyai tempat sendiri. Misalnya dapur berhubungan dengan api, maka ditempatkan di selatan. tempat sembahyang berada di sebelah timur tempat matahari terbit. 

Sumur sebagai sumber air ditempatkan di bagian utara sebab ada keberadaan gunung. Pada masyarakat Bali untuk status sosial juga dipakai menjadi pedoman. Sehingga, rumah Bali ada yang disebut Puri atau Jeroan. Tata ruang bangunan rumah Bali akan dibagi menjadi Jero sebagai bagian luar dan Jaba Jero mendefinisikan bagian ruang luar dan dalam, atau tengah. 

2. Mengukur Berdasar Anatomi Tubuh Pemilik Hunian

Pengukuran dalam pembangunan rumah Bali tidak menggunakan meteran, melainkan memakai aturan-aturan anatomi tubuh. Seperti tangan, jari, lengan, dan kaki pemilik hunian. Pengukuran menggunakan anatomi tubuh, seperti Musti adalah ukuran atau dimensi ukuran tangan mengepal dengan ibu jari menghadap ke atas. 

Hasta adalah ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewasa dimulai dari pergelangan tengah tangan hingga ujung jari tengah terbuka. Depa adalah ukuran yang digunakan diantara dua bentangan tangan yang direntangkan dari kiri ke kanan. Acengkang atau alengkat dalam mengukur dari ujung telunjuk sampai ujung ibu jari tangan yang direntangkan, dan lainnya.

3. Konsep Tri Angga-Tribuana 

Konsep ini bentuk konsistensi tata nilai ruang dan bangunan bisa diwujudkan dengan perletakan bangunan yang beragam. Pada nilai fungsinya diserasikan dengan struktur hirarki nilai ruangnya. Diketahui ketinggian lantai disesuaikan dengan nilai fungsi bangunan, sehingga ada keserasian antara nilai ruang dan nilai bangunan. 

Konsep Tri Angga mengenai teknik konstruksi dan material terdiri dari nista, madya, dan utama. Nista menggambarkan bagian bawah dari bangunan yaitu pondasi dan bahan material dari batu alam gunung dan batu bata. Madya sebagai bagian tengah bangunan diwujudkan dalam bangunan dinding, jendela, dan pintu. 

Utama adalah simbol dari bangunan paling atas diwujudkan dalam bentuk atap dan tempat paling suci dari rumah tinggal. Digambarkan sebagai tempat tinggal dewa atau leluhur. Bahan material atap menggunakan ijuk dan alang-alang, atau sekarang genteng atau asbes. 

Itulah informasi seputar Asta kosala kosali yang ada dalam masyarakat Bali. Konsep ini didasarkan atas konsep geografis alam Bali dengan dua sumbunya, yakni sumbu kosmos dan sumbu ritual atau prosesi. Gunung yang terletak di tengah-tengah pulau Bali sebagai sumbu kosmos. Sehingga, membentuk sumbu dengan dua arah, yaitu menuju gunung dan laut. 


Like it? Share with your friends!

1
1 point
Jarot Triguritno
Jarot is a content writer at Kintamani. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about travel

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *