Gereja Pniel Desa Blimbingsari yang Unik, dengan Desain Arsitektur Layaknya Pura di Bali

Gereja Pniel Desa Blimbingsari

via Berita Bali

Bangunan pura dengan desain arsitektur tradisional Bali, lengkap dengan candi bentar sebagai pintu gerbang utama, menjadi ciri khas yang banyak ditemukan selama berlibur ke Pulau Dewata. Namun, Anda juga perlu tahu bahwa tidak semua bangunan dengan arsitektur seperti itu merupakan bangunan pura. Apalagi, ada pula gereja di Bali yang memiliki desain bangunan yang tak ubahnya seperti pura, yakni Gereja Pniel Desa Blimbingsari.

Gereja Pniel Desa Blimbingsari 2 » Gereja Pniel Desa Blimbingsari yang Unik, dengan Desain Arsitektur Layaknya Pura di Bali

via blimbingsaritravellingandministry

Dari luar, desain bangunan dari Gereja Pniel memang tak jauh berbeda kalau dibandingkan dengan bangunan pura yang merupakan tempat ibadah umat Hindu. Namun, Anda mungkin baru bisa menyadari kalau bangunan ini adalah sebuah gereja ketika melihat tanda salib yang sengaja ditempatkan di bagian puncak bangunan. Keberadaan bangunan gereja ini menjadi salah satu bukti kalau masyarakat Bali punya toleransi beragama yang tinggi.

Sejarah Gereja Pniel Desa Blimbingsari di Bali

Pada zaman dulu, Desa Blimbingsari merupakan area yang ditakuti oleh masyarakat Bali. Kawasan ini juga bukan daerah permukiman manusia, tetapi sebuah area hutan. Ketakutan masyarakat terhadap wilayah ini di zaman dulu berkaitan erat dengan unsur mistis. Mereka beranggapan kalau kawasan hutan yang ada di Desa Blimbingsari merupakan wilayah yang dihuni oleh berbagai hewan liar berbahaya.

Gereja Pniel Desa Blimbingsari 1 » Gereja Pniel Desa Blimbingsari yang Unik, dengan Desain Arsitektur Layaknya Pura di Bali

via Berita Bali

Namun, anggapan itu berubah setelah fenomena kedatangan orang asing ke wilayah Desa Blimbingsari pada tahun 1939. Saat itu, orang-orang asing yang beragama Kristen memilih Desa Blimbingsari sebagai area permukiman. Mereka kemudian membangun jalan setapak yang sengaja dibentuk berupa salib. Orang-orang asing tersebut pun menganggap bahwa tanah yang ada di desa ini adalah tanah perjanjian Tuhan.

Tanah yang disebut sebagai tanah perjanjian Tuhan oleh umat Kristen memiliki perbedaan kontras dengan tanah biasa. Tanah ini konon merupakan tanah yang diberkati oleh Tuhan, sehingga bakal membawa berkah bagi siapapun yang mendiaminya. Dengan asumsi seperti itu, orang-orang asing tersebut kemudian memutuskan untuk membangun sebuah gereja megah yang kini dikenal dengan nama Gereja Pniel Bali.

Gereja Pniel Jadi Daya Tarik Utama Wisata di Desa Blimbingsari

Adanya Gereja Pniel di Desa Blimbingsari terbukti memberi berkah tersendiri bagi masyarakat desa. Apalagi, keunikan bangunan dari gereja ini membuat para wisatawan banyak yang berdatangan. Mereka yang berkunjung tidak hanya ingin melaksanakan misa dengan suasana berbeda. Tak sedikit pula wisatawan yang secara sengaja menyempatkan waktu demi menyaksikan secara langsung keunikan desain arsitektur gereja.

Ditambah lagi, suasana Desa Blimbingsari juga merupakan wilayah yang terjaga keasriannya. Bahkan, desa ini memperoleh gelar prestisius sebagai “The Winner of Community Based Tourism” tingkat nasional yang dilangsungkan pada tahun 2017. Gelar ini membuktikan bahwa pengembangan potensi wisata di Desa Blimbingsari dilakukan dengan tanpa menghilangkan dampak positif lingkungan serta budaya.

Hal tersebut juga dibuktikan dengan bangunan Gereja Pniel yang sampai saat ini berdiri sangat megah. Ditambah lagi, masyarakat setempat juga mendukung upaya menjaga tradisi dan budaya. Hal ini diperlihatkan dengan kebiasaan jemaat yang kerap memilih datang melakukan upacara misa dengan baju kebaya tradisional Bali. Tak hanya itu, jedog berukuran besar juga kerap menghiasi sudut-sudut bangunan gereja ketika dilakukan perayaan keagamaan.

Nah, itulah keunikan yang dimiliki oleh Gereja Pniel di Bali. Gereja ini memang bukan gereja tertua. Namun, keberadaannya menjadi bukti bahwa masyarakat Bali bisa hidup dengan tenang dengan penganut agama lain.