Hak Tawan Karang, Salah Satu Hak Istimewa Kerajaan Bali


Dengan melihat dari sudut pandang politik, penerapan hukum tawan karang bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan setempat dari munculnya ancaman dari laut lepas. 

Sedangkan, dari sisi kemanusiaan, hak tawan karang adalah kekuasaan para kerajaan Bali sejak masa Bali Kuno yang bertujuan untuk memperoleh kekayaan guna menjaga kesejahteraan masyarakatnya.    

Konteks Hak Tawan Karang

Sebagai penganut agama Hindu, penduduk Bali percaya bahwa makna tawan karang adalah bentuk kemurahan hati Dewa Baruna. Dengan pemberian dari sang dewa, masyarakat Bali dapat mempertahankan kehidupan mereka dan menjaga kekuasaan area Bali. 

Penerapan hukum tawan karang ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal. Sehingga, kerajaan memperoleh sumber pendapatan kerajaan dan mampu mempertahankan kedaulatan daerah. 

Sebagai bentuk komunikasi, kerajaan pengklaim kapal akan memberitahukan kepada kerajaan pemilik kapal untuk meminta tebusan dalam kurun waktu 25 hari. Penebusan 1 orang rakyat adalah 4000 kepeng untuk pria dan 2000 kepeng untuk wanita. 

Komunikasi antar kerajaan ini menjadi krusial untuk menyelesaikan sengketa. Jika kerajaan asal menebus kapalnya, setengah dari harga total muatan kapal akan menjadi milik kerajaan yang menemukan kapal tersebut.

Baca Juga: Daftar Perlawanan Rakyat Bali Melawan Penjajah

Namun, tanpa penebusan, seluruh penumpang dan muatan menjadi milik kerajaan pengklaim hak tawan karang.

Pada akhirnya, barang hasil tawanan ini menjadi sumber untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya yang berada di bawah perlindungan kerajaan pengklaim. Untuk kesempatan ini, seorang raja harus mempersembahkan ucapan syukur kepada dewa.

Prasasti Bukti Hak Tawan Karang

Dari penemuan kedua prasasti kuno, terdapat penjabaran mengenai definisi hak tawan karang. Lebih lagi, keberadaan prasasti ini sekaligus dapat menjadi bukti kepercayaan masyarakat Bali akan adanya Tuhan.

1. Prasasti Babetin (896 Masehi)

Jika ada pedagang berlabuh di area perairan Bali, ia harus mengadakan upacara persembahan bagi Hyang Api. Saat sang pedagang itu meninggal, segala miliknya akan menjadi milik raja dan rakyat secara rata. 

Masyarakat Bali akan menggunakannya menjadi pagar benteng, apabila ditemukan bahwa perahunya rusak/pecah.

2. Prasasti Sembiran (923 M) 

Prasasti Sembiran ini terbuat dari tembaga. Tulisan pada prasasti ini menyatakan bahwa kapal, perahu, jukung, dan talaka yang ditemukan oleh penduduk desa, akan menjadi bahan persembahan kepada Bhatara Punta Hyang.

Kerajaan Buleleng harus berhadapan dengan Belanda akibat hak tawan karang. Perselisihan mulai berkembang seiring pengklaiman dua kapal milik Belanda yang terdampar tanpa izin di perairan Perancak, Jembrana. 

Berdasar hukum hak tawan karang, tentu saja kapal ini menjadi milik kerajaan Buleleng. Namun, respon dari pihak Belanda berbeda dengan kerajaan lokal yang pernah menjadi lawan Kerajaan Buleleng. Belanda malah berbalik dengan permintaan yang memaksa Kerajaan Buleleng mengganti rugi dan mengakui kekuasaan tentara Belanda. 

Dengan bertamengkan isu hak tawan karang ini, Belanda memulai penyerangan terhadap Kerajaan Buleleng. Terbukti, intensi Belanda sebenarnya adalah untuk menguasai kekayaan alam yang ada di Bali. 

Melihat gelagat Belanda, kerajaan-kerajaan Bali beserta rakyatnya bersiap mengadakan perang puputan untuk menyambut niat Belanda tersebut. Sebuah perang yang berarti peperangan hingga titik darah penghabisan. Benar saja, setelah perang puputan usai dan penaklukan Bali pada tahun 1849, Belanda menggunakan hak tawan karang untuk kepentingannya sendiri.

Kesimpulannya, hak tawan karang adalah hak istimewa kerajaan-kerajaan di Bali yang mempercayai kapal terdampar sebagai pemberian dari dewa. 

Sebuah pemberian yang berfungsi untuk menjaga kedaulatan daerah kerajaan dan mensejahterakan masyarakat, yang berada di bawah perlindungan kerajaan tersebut. Hak hukum adat ini hilang sejak kekuasaan Belanda menguasai Bali dan mengambil alih kekayaan alam untuk kepentingan mereka sendiri.


Like it? Share with your friends!

Nirwan

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *