Jadikan Semangat Juang I Gusti Ketut Jelantik Inspirasimu


biodata i gusti ketut jelantik
Sumber: Tribunnews

Kalian pasti berada di sini karena dapat tugas dari guru IPS atau Sejarah untuk mengenal sosok I Gusti Ketut Jelantik. Memang harus diakui, belajar sejarah bisa menjadi membosankan buat kalian. Tapi, kalian coba analogikan dengan game online yang kalian cintai, seperti PUBG dan Mobile Legend. 

Jika kalian diserang oleh musuhmu untuk mendapatkan sumber daya di areamu, langkah apa yang kalian akan ambil? Nah, langkah defensif yang kalian ambil itu sama persis dengan latar belakang perlawanan para pejuang yang kalian pelajari di kelas sejarah. 

Perlawanan di Tanah Dewata: I Gusti Ketut Jelantik

Seorang patih Kerajaan Buleleng, I Gusti Ketut Jelantik, telah memimpin 3 perang besar di Bali. Pahlawan Bali ini terkenal dengan kepiawaian strategi perang dan keberaniannya saat melawan Belanda. 

Perang puputan Bali ini berawal dari adanya hak adat Tawan Karang yang mengklaim bahwa kapal yang karam dan terdampar di area pantai Bali tanpa izin akan menjadi milik kerajaan Bali terdekat.

Hukum adat Bali ini sudah ada di Bali sejak abad ke-9, namun saat kapal milik Belanda berlabuh dan ditawan, orang asing ini tidak terima dengan keputusan hukum adat ini. 

Kerajaan Bali yang mendapat hak tawan karang kapal Belanda saat itu adalah Kerajaan Buleleng, karena kapal Belanda karam di Perancak, Jembrana.

Pemerintah Belanda memiliki kebiasaan untuk mengadakan perundingan dan menandatangani perjanjian untuk menyelesaikan persengketaan. Pihak Belanda mengajukan permintaan ganti rugi terhadap klaim hukum adat Bali atas 2 kapalnya yang karam dan menjadi obyek jarahan masyarakat Bali.

Selain itu, Belanda juga meminta penguasa Bali menghapus hukum adat dan rakyat Bali mengakui kekuasaan Belanda di Bali. Melihat bahwa permintaan Belanda hanya akan merugikan warganya, Raja Buleleng dan Patih Agung Jelantik menolak dan bertekad untuk membela adat istiadat, nilai leluhur, dan kebebasan di tanahnya sendiri.

Kesenjangan Persenjataan Perang Memukul Mundur Sang Pahlawan

Persenjataan modern Belanda sangat kuat, sehingga para pejuang mundur. Pada tahun 1846, Raja Buleleng dan Patih Jelantik bergerak mundur ke Jagaraga. 

Sebagai dalih untuk menyusun kekuatan, kerajaan Buleleng menandatangani perjanjian damai dengan Belanda. Sementara itu, I Gusti Ketut Jelantik meminta bantuan dari aliansi kerajaan Bali lainnya, seperti Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Klungkung.

Mengetahui bahwa penandatanganan perjanjian adalah siasat penguluran waktu, pada tahun 1848, Belanda mengirimkan pasukannya dan berperang melawan kerajaan Buleleng yang tersisa di Jagaraga. 

Para ahli siasat perang menyatakan bahwa sang Patih memilih lokasi persembunyian yang tidak terjangkau oleh meriam.

Pada peperangan tahun 1848 ini, Kerajaan Buleleng bergabung dengan kerajaan Bali lainnya. Namun, tetap terpukul telak. Akhirnya, Raja Buleleng dan Patih Agung Jelantik meminta bantuan Kerajaan Karangasem untuk dapat bersembunyi di pegunungan Batur, Kintamani. 

Di sinilah, pasukan Lombok yang saat itu menjadi aliansi Belanda mengalahkan pertahanan kerajaan Buleleng. 

Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional

Untuk keberaniannya membela kerajaannya, I Gusti Ketut Jelantik mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1993. 

Nilai keteladanan dari Pahlawan Nasional ini adalah nilai patriotisme, kesetiakawanan, dan bertanggung jawab. 

Sangat mudah bagi patih Kerajaan Buleleng ini untuk pergi dan menyelamatkan diri, karena ia bukanlah Raja Buleleng. Namun, ia tetap berada di sisi raja saat menghadapi kekalahan perang yang bertubi-tubi.

Demikian ulasan mengenai Pahlawan Nasional, I Gusti Ketut Jelantik. Semoga dapat membantumu menyelesaikan tugas IPS atau Sejarah dari gurumu. Akan lebih baik, jika nilai keteladanan itu juga dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti bertanggung jawab menyelesaikan tugas dan setia kawan dalam hal yang positif.


Like it? Share with your friends!

Nirwan

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *