Kampung Loloan di Bali, Kampung Kuno Tempat Berkembangnya Komunitas Muslim Terbesar Jembrana

Kampung Loloan di Bali

Memiliki reputasi sebagai provinsi dengan penganut Agama Hindu terbesar di Indonesia, bukan berarti Bali tidak mempunyai penduduk agama lain. Masyarakat Islam berkembang cukup pesat di Bali. Anda bisa menemukan berbagai komunitas muslim yang bisa ditemukan di berbagai wilayah kabupaten, termasuk di antaranya adalah Kampung Loloan di Bali.

Kampung Loloan di Bali 1 » Kampung Loloan di Bali, Kampung Kuno Tempat Berkembangnya Komunitas Muslim Terbesar Jembrana

via Suara Muslim

Kampung Loloan merupakan sebuah perkampungan yang terletak di wilayah Kabupaten Jembrana, Bali. Kampung ini memang memiliki reputasi yang berbeda kalau dibandingkan dengan kawasan lainnya di Bali. Alasannya, karena Kampung Loloan di Jembrana dikenal sebagai perkampungan Islam. Di sini, mayoritas warganya beragama Islam yang punya tradisi sendiri.

baca juga: Liburan ke Bali saat Perayaan Nyepi, Ini 5 Aktivitas Seru yang Bisa Anda Lakukan

Sejarah Kampung Kuno Loloan di Bali

Eksistensi Kampung Loloan sudah sangat lama di Pulau Bali. Jejak keberadaan kampung Islam ini bisa ditelusuri mulai dari zaman Sultan Hasanuddin dari Makassar. Orang-orang yang ada di Loloan memang bukan berasal dari Suku Bali, melainkan Suku Bugis. Mereka datang ke Bali pada tahun 1653, seiring dengan jatuhnya Benteng Somba Opu ke tangan VOC.

Para prajurit pengikut Sultan Hasanuddin melarikan diri ke Bali dan kemudian menetap di kawasan muara yang terletak di Perancak. Bukti dari keberadaan orang-orang dari suku Bugis bisa ditemui dengan adanya Sumur Bajo yang lokasinya berada di tepi pantai. Selanjutnya, orang-orang dari suku bugis tersebut melakukan perjalanan untuk mencari tempat menetap.

baca juga: Menelisik Jejak Kerajaan Majapahit di Tanah Bali

Proses pencarian tempat bermukim orang-orang Suku Bugis tersebut berlangsung dengan cara damai. Tidak ada pertumpahan darah yang terjadi. Apalagi, mereka memperoleh izin secara langsung dari penguasa daerah Jembrana kala itu, yakni I Gusti Arya Pancoran. Atas arahan I Gusti Arya Pancoran, mereka diberi tempat tinggal di Loloan yang kemudian terbagi menjadi Kampung Loloan Barat dan Timur.

Keberadan orang-orang Bugis yang beragama Islam, tidak mengalami ketegangan dengan masyarakat lokal yang waktu itu sudah beragama Hindu. Dengan suasana yang kondusif tersebut, Kampung Loloan berkembang pesat. Bahkan, di sini juga menjadi tempat pemakaman tokoh muslim besar asal Serawak Malaysia, yakni Buyut Lebai yang datang ke Loloan pada tahun 1675.

Budaya Unik Kampung Islam Loloan di Bali

Sebagai kampung kuno yang berusia ratusan tahun, Kampung Loloan memiliki peninggalan sejarah yang banyak dan terjaga dengan baik. Di Kampung Loloan Barat, terdapat Masjid Mujahidin yang telah berdiri selama 200 tahun. Sementara itu, Masjid Agung Baitul Qadim merupakan masjid pertama yang dibangun di Kampung Loloan Timur.

Selanjutnya, bahasa yang digunakan oleh masyarakat Kampung Loloan juga memiliki perbedaan dibandingkan dengan masyarakat Bali. Di sini, Anda akan menemukan pelafalan bahasa yang mirip dengan bahasa Melayu, dikenal dengan base loloan. Bahasa ini merupakan perpaduan antara Bahasa Melayu dengan Bahasa Bali.

Selain itu, rumah-rumah yang di Kampung Loloan juga punya bentuk berbeda dengan orang Bali pada umumnya. Rumah yang menjadi tempat tinggal asli dari warga Loloan, memiliki desain arsitektur bergaya bugis. Hanya saja, saat ini cukup banyak tradisi serta budaya adat asli dari Kampung Loloan yang mulai ditinggalkan oleh warga setempat.

Rumah-rumah yang berdiri, kebanyakan merupakan rumah dengan desain arsitektur modern. Namun, hal ini merupakan satu fenomena yang sulit terhindarkan. Apalagi, Kampung Loloan memiliki akses yang mudah, hanya berjarak sekitar 25 km dari Pelabuhan Gilimanuk.