Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa, Kelenteng Tertua di Seantero Bali

Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa

Menelisik keberadaan tempat ibadah tertua di Bali cukup menarik. Tak hanya pura, tapi juga kelenteng. Nah, mengenai kelenteng di Bali, Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa dikenal sebagai kelenteng tertua yang ada di Bali. Keberadaan kelenteng ini telah diketahui sejak tahun 1548.

Sejarah pendirian Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa memang tak begitu jelas. Namun, menurut penuturan dari mantan lurah Tanjung Benoa, yakni Dibya Adnyana, sejarah kelenteng tersebut bisa ditelusuri sejak tahun 1548. Konon, pembangunan kelenteng ini dilakukan warga Tionghoa yang berasal dari Tiongkok.

Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa 3 1024x683 » Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa, Kelenteng Tertua di Seantero Bali

Penuturan mengenai sejarah kelenteng ini memang dilakukan tidak secara tertulis. Sebagai gantinya, para pengurus kelenteng memperoleh informasi terkait pendirian sejarah ini dari mulut ke mulut yang bersumber dari leluhurnya yang berasal dari Hainan, Tiongkok.

Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa Dibangun Saat Bali Sangat Sepi

Berdasarkan penuturan sejarah tersebut, kedatangan para saudagar yang membangun kelenteng ini dilakukan menggunakan kapal laut dan melintasi Selat Malaka. Dalam perjalanannya itu, para saudagar sempat memperoleh pencegatan dari perompak. Beberapa di antaranya menjadi korban, tapi ada sebagian kecil yang berhasil selamat.

Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa 1 1024x683 » Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa, Kelenteng Tertua di Seantero Bali

Hanya saja, perjuangan masih belum usai bagi para saudagar yang selamat. Mereka masih harus berhadapan dengan badai yang begitu ganas di lautan. Pada momen ini, muncul peristiwa yang fenomenal, yang diyakini oleh masyarakat Tionghoa sebagai fenomena kemunculan Dewa Baruna sang penguasa lautan.

Atas bentuk rasa syukur, para saudagar yang berhasil selamat kemudian mendirikan kelenteng di lokasi tempat mereka sampai. Lokasi tersebut tak lain adalah Tanjung Benoa. Kelenteng tersebut pun mereka namai dengan nama Kelenteng Caow Eng Bio. Pada awal pendiriannya, bangunan ini hanya berbentuk begitu sederhana. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, bangunan terus diperbaiki sehingga terlihat begitu megah seperti sekarang.

baca juga: Telusuri Jejak Pura Puncak Penulisan Bali, Pura Tertua di Pulau Dewata

Desain Arsitektur Unik Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa

Melihat bangunan kelenteng dari luar, Anda sudah bisa mengetahui keunikan dari bangunan ini. Apalagi, bangunan kelenteng ini memiliki desain arsitektur khas Tiongkok yang begitu kental. Warna merah terlihat begitu mencolok pada bangunan. Tak heran kalau wisatawan bisa mengenali bangunan bersejarah ini dengan sangat mudah.

Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa 4 1024x683 » Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa, Kelenteng Tertua di Seantero Bali

Beberapa patung yang menjadi lokasi pemujaan para pengunjung kelenteng bisa ditemukan di sini. Beberapa di antaranya adalah Dewa Naga yang terletak di ruang sayap kiri, altar Dewi Kwan Im di bangunan sebelah kanan, ataupun altar Ya Ti Kong, Cao Eng Kik Liek, serta Suie Wie Sen Niang yang berada di altar utama.

baca juga: Museum Puri Lukisan Ubud – Museum Seni Tertua Sarana Wisata Edukasi di Bali

Keunikan desain arsitektur yang dimiliki oleh kelenteng tertua di Pulau Bali bisa menjadi sarana berburu foto yang menarik. Apalagi, kelentang ini cukup terbuka untuk bisa dikunjungi oleh siapapun. Para pengelola tak membatasi kunjungan hanya bagi wisatawan yang menganut agama Konghuchu ataupun Budha. Namun, wisatawan yang beragama Islam, Kristen, ataupun Hindu juga diperbolehkan masuk ke area kelenteng.

baca juga: Wisata Budaya Menyaksikan Kemegahan Pura Luhur Lempuyangan Bali

Lokasi Kelenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa

Lokasi kelenteng ini begitu mudah Anda datangi. Alamatnya beada di Jl. Segara Ening, Tanjung Benoa. Tempat ini juga bisa Anda kunjungi secara gratis, pada rentang antara pukul 06.00 sampai 21.00. Hanya saja, pastikan kedatangan Anda tak menganggu prosesi ibadah para pengunjung, ya.

Foto via Tradisi Tri Dharma