Kuliner Sate di Bali, Makanan Favorit Wisatawan sekaligus Senjata Para Dewa

kuliner sate di Bali

Mencicipi kuliner sate ketika berkunjung ke Bali adalah aktivitas yang hampir selalu dilakukan oleh para wisatawan. Apalagi, pilihan menu sate yang bisa ditemukan di Bali sangat beragam. Anda bisa menjumpai sate lilit, sate babi, dan berbagai jenis sate lain. Namun, pernahkah Anda berpikir bahwa sate bukan sekadar makanan bagi masyarakat Bali. Orang-orang Hindu juga beranggapan bahwa sate dikenal sebagai senjata para dewa.

kuliner sate di Bali 2 » Kuliner Sate di Bali, Makanan Favorit Wisatawan sekaligus Senjata Para Dewa

Sate juga menjadi jenis makanan yang selalu hadir dalam setiap pelaksanaan upacara keagamaan yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Mereka menganggap bahwa sate sebagai salah satu sarana upakara yang penting dan tak boleh dilewatkan dalam setiap persembahyangan, termasuk di antaranya adalah pada momen Hari Raya Galungan dan Kuningan. Persiapan sate dilakukan setidaknya sehari sebelum hari raya, ketika jatuh pada hari pemotongan hewan persembahan.

Sate Sebagai Simbol Peralatan Perang dalam Budaya Hindu Bali

Masyarakat Hindu Bali menganggap bahwa bentuk sate yang berupa potongan daging dengan tusuk kayu, adalah simbol dari peralatan perang. Seperti dikutip dari Kompas, Buku berjudul Dharma Charuban yang ditulis oleh Wayan Budha Gautama menyebutkan bahwa terdapat 9 jenis sate yang biasa dibuat dalam setiap pelaksanaan Hari Raya Galungan. Sembilan jenis sate tersebut dikenal dengan nama sate penawa-sangan.

Penyebutan sate penawa-sangan bukanlah istilah sembarangan. Penyebutan itu merujuk pada fungsi sate yang dikenal sebagai lambang senjata dari Sang Hyang Nawa Dewata atau lebih dikenal dengan sembilan dewata yang menguasai sembilan arah mata angin.

Nah, bagi Anda yang penasaran dengan apa saja sih yang termasuk dalam sate penawa-sangan dalam budaya masyarakat Hindu Bali, berikut ini adalah jawabannya:

1. Sate asem, merupakan jenis sate yang secara khusus dibuat dengan bahan utama berupa lemak, usus halus, serta berbagai jenis jeroan binatang. Sate ini dikenal sebagai simbol dari Cakra yang merupakan senjata milik Dewa Wisnu.

2. Sate suduk ro, dikenal sebagai lambang dari Angkus yang tak lain merupakan senjata milik Sang Hyang Angkara. Sate ini dibuat dengan bahan utama daging.

3. Sate jepit adalah lambang dari Bajra atau senjata milik Dewa Iswara.

4. Sate Kuung, dibuat dengan bahan utama lemak yang menempel pada daging atau kulit. Karena memiliki bentuk mirip bunga cempaka, sate kuung yang merupakan simbol Padma (senjata Sang Hyang Siwa) dikenal sebagai sate cempaka.

5. Sate jepit balung yang merupakan simbol dari senjata Sang Hyang Mahadewa, yakni Naga Pasa.

6. Sate srapah, adalah jenis sate yang secara khusus dibuat dengan bahan utama lambung babi atau jeroan babi. Jenis sate ini, oleh masyarakat Hindu Bali dianggap sebagai lambang dari Dupa yang merupakan senjata milik Sang Hyang Mahesora.

7. Sate sepit gunting menjadi jenis sate selanjutnya, dibuat dengan bahan utama lemak yang bisa ditemukan menempel pada bagian hati serta kulit babi. Biasanya, lemak akan direbus sampai matang, lalu digoreng sampai kering. Keberadaannya dikenal sebagai simbol Trisula yang merupakan senjata dari Dewa Sambu.

8. Sate letlet merupakan jenis sate yang dibuat dengan bahan daging giling. Daging tersebut kemudian dicampur dengan bumbu dan santan kental. Sate letlet dikenal sebagai simbol dari Moksala yang merupakan peralatan perang milik Dewa Rudra.

9. Terakhir, adalah sate lembat yang merupakan jenis sate dengan bahan utama dari serat daging di bagian paha. Daging tersebut akan digiling sampai halus kemudian dicampur dengan bumbu ulig dan diisi parutan kelapa. Pembuatan sate lembat digunakan sebagai simbol Gada yang merupakan senjata milik Dewa Brahma.

Itulah 9 jenis sate yang sering digunakan sebagai sarana upakara untuk setiap acara keagamaan Hindu Bali. Menarik, kan?