Lawar Khas Bali, Kuliner Tradisional yang Menjadi Simbol Persatuan

lawar khas bali

via Masakan Dapur

Lawar menjadi jenis makanan tradisional yang bakal Anda temukan dengan sangat mudah di Bali. Tidak hanya pada hari-hari biasa, lawar menjadi sajian wajib ketika dilaksanakan upacara keagamaan oleh masyarakat Hindu Bali. Dalam pembuatannya, lawar bisa ditemukan dalam berbagai jenis, mulai dari lawar kuwir, lawar belimbing, lawar nangka, lawar merah, lawar putih, dan lain-lain.

lawar khas bali 1 1024x569 » Lawar Khas Bali, Kuliner Tradisional yang Menjadi Simbol Persatuan

via Primarasa

Dari sekian banyak jenis lawar tradisional di Bali, ada dua lawar yang familier di kalangan masyarakat lokal Bali. Dua lawar yang dimaksud adalah lawar merah dan lawar putih. Kedua jenis lawar ini dibuat dengan bahan yang hampir mirip. Hanya saja, lawar merah dibuat dengan tambahan campuran darah hewan. Oleh karena itu, lawar ini terlihat memiliki warna merah mencolok.

Lawar Dibuat dengan Berbagai Jenis Bahan Berbeda

Masyarakat tradisional Bali menganggap lawar sebagai makanan pemersatu atau simbol adanya persatuan. Penyebutan lawar sebagai simbol persatuan bukan tanpa sebab. Alasan utamanya adalah karena lawar merupakan jenis makanan yang diracik dengan begitu banyak bahan-bahan berbeda. Bahan-bahan yang digunakan terutama adalah berbagai jenis sayuran.

Dalam penentuan bahan yang digunakan untuk lawar, masyarakat Bali juga memiliki perhitungan matang. Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat lawar, memiliki keterkaitan dengan Catur Dala yang merupakan representasi empat dewa di empat arah mata angin. Bahan-bahan yang digunakan, harus menjadi representasi dari masing-masing dewa tersebut.

Apa saja empat bahan yang menjadi simbol empat dewa tersebut? Pertama, Anda bisa menemukan bahan berupa kelapa dengan warna putih yang merupakan representasi dari Dewa Iswara di arah timur. Selanjutnya, darah yang memiliki warna merah adalah simbol dari Dewa Brahma yang merupakan dewa penguasa di arah selatan. Bumbu dengan warna kuning menjadi wakil dari Dewa Mahadewa di arah barat. Terakhir, ada warna hitam dari terasi yang merupakan representasi Dewa Wisnu di arah utara.

Tidak cukup sampai di situ, rasa yang dimiliki lawar juga menjadi simbol atas pengalaman hidup yang dijalani oleh setiap manusia. Ada rasa manis yang didapatkan dari gula merah. Selain itu, ada pula asin yang berasal dari garam. Lalu, ada rasa asam dari buah asam, pahit yang disertai bau harum dari buah limau, rasa pedas cabai, ataupun kesan busuk yang bersumber dari terasi. Semua rasa itu bersatu padu menghadirkan cita rasa khas dari lawar.

Berbagai Rasa yang Menjadi Satu dari Lawar Khas Bali

lawar khas bali 2 1024x819 » Lawar Khas Bali, Kuliner Tradisional yang Menjadi Simbol Persatuan

via Masakan Dapur

Keberadaan lawar sebagai kuliner tradisional Bali, merupakan penggambaran yang tepat mengenai kondisi dari negara Indonesia. Kalau lawar dinikmati dalam kondisi sudah siap disajikan, makanan tradisional ini terasa enak. Kekurangan dari masing-masing bahan, tertutupi oleh kelebihan dari bahan lain. Kondisi serupa juga bisa didapatkan ketika masyarakat dari berbagai latar belakang bersatu secara padu.

Konsumsi lawar juga memiliki khasiat untuk kesehatan. Hanya saja, hal yang perlu diperhatikan, untuk Anda yang sudah memiliki usia lanjut, sebaiknya hindari lawar yang disertai dengan unsur daging. Untuk mencicipi makanan ini, Anda juga bisa menemukannya di berbagai tempat. Namun, wisatawan yang beragama Islam perlu waspada. Alasannya, karena daging yang digunakan untuk lawar, umumnya adalah daging babi.

Meski begitu, Anda juga tetap bisa menemukan lawar yang dibuat dengan bahan selain daging babi. Sebagai gantinya, daging yang dipakai adalah daging sapi atau kadang pula daging bebek atau kuwir.