Mengenal Cetik, Racun Tradisional Bali yang Sudah Ada Sejak Zaman Dulu

Racun Tradisional Bali

Ketika mendengar kata cetik, masyarakat luar Bali mungkin tidak terlalu memperhatikannya. Namun, kondisi yang berbeda ketika seorang warga Bali mendengar istilah tersebut. Cetik, bagi masyarakat Bali merupakan sebuah benda yang berbahaya, kerap disebut sebagai racun tradisional Bali. Keberadaan cetik pun sudah ada sejak zaman dulu, terbukti dengan adanya lontar yang mengungkapkan betapa berbahanya cetik.

Racun tradisional dari Bali ini merupakan jenis racun yang dapat dijumpai dalam berbagai bentuk. Rajun ini juga dibuat dari bahan-bahan yang biasa ditemukan di alam. Seorang peracik cetik, dapat menciptakan racun tradisional yang berbahaya dari sari pati tumbuhan atau bisa pula didapatkan dari ekstrak hewani. Dampak dari racun ini sangat berbahaya, bisa berujung pada kematian.

Cetik Menjadi Hal yang Ditakuti Warga Bali

Cetik memang menjadi produk racun di zaman dulu. Meski begitu, tradisi membuat cetik sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Bali. Fenomena warga yang keracunan cetik juga masih kerap dijumpai. Bahkan, masyarakat Bali sangat ketakutan ketika menghadapinya. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan mengenai cara menyembuhkan orang yang terkena cetik.

baca juga: Pantai Penimbangan Buleleng, Wisata Pantai Sembari Menikmati Sawah yang Asri

Ketakutan terhadap cetik yang dimiliki oleh warga Bali memang sangat beralasan. Masyarakat Bali kerap menganggap kalau cetik sebagai hal yang mistis, punya kaitan erat dengan guna-guna serta penyakit niskala. Apalagi, cetik dapat pula dibuat cukup dengan memadukan bahan-bahan yang tersedia (sekala) ataupun menggunakan cara pengolahan batin (niskala). Ketika proses pembuatan niskala, terkadang disertai dengan mantera khusus.

racun tradisional Bali 2 » Mengenal Cetik, Racun Tradisional Bali yang Sudah Ada Sejak Zaman Dulu

Karena kepercayaan tersebut, masyarakat Bali kerap mengalami kebingungan saat ada anggota keluarga yang terkena cetik. Kebingungan tersebut memunculkan rasa panik yang akhirnya disertai dengan keputusan membawa ke balian secara terburu-buru. Namun, apakah cara dengan berkunjung ke balian merupakan metode penyembuhan cetik yang paling efektif?

baca juga: Munti Gunung Karangasem, Transformasi Desa Gepeng Menjadi Dewa Wisata

Cara penyembuhan cetik sebenarnya dapat dijumpai pada lontar yang berasal dari zaman dulu. Metode penyembuhan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan bahan yang didapatkan dari tumbuhan ataupun hewan. Salah satu lontar yang secara gamblang menjelaskan tentang cara penanganan serta pengobatan cetik atau racun tradisional Bali adalah Lontar Usada Cetik yang tertanggal 300 tahun sebelum Masehi.

Jenis-Jenis Racun Tradisional Bali Cetik yang Paling Berbahaya

racun tradisional Bali 1 » Mengenal Cetik, Racun Tradisional Bali yang Sudah Ada Sejak Zaman Dulu

Dari sekian banyak cetik, racun yang disebut dengan cetik croncong polo kerap dianggap sebagai jenis cetik paling mematikan. Siapapun yang terkena cetik ini, bakal memiliki ciri-ciri badan yang terasa sangat panas, mata memerah, serta telinga yang terasa pecah. Menurut informasi dari lontar, racun ini punya karakteristik menyerang bagian otak. Siapapun yang terkena, berisiko kehilangan nyawa dalam waktu yang singkat.

baca juga: Museum Gedong Kirtya Singaraja, Menyaksikan Koleksi Lontar Bali dengan Nilai Sejarah Tinggi

Menurut lontar usada, racun paling mematikan ini tetap bisa disembuhkan. Caranya adalah dengan menggunaan campuran madu klupa, keong kraca, air jeruk, serta belerang merah. Campuran bahan tersebut kemudian kemudian diteteskan pada bagian lubang hidung.

Selain ceik croncong polo, ada pula deretan cetik lain yang tidak kalah berbahaya. Cetik-cetik tersebut di antaranya adalah cetik gringsing yang dibuat dari bahan utama yuyu gringsing atau gurita yang berwarna merah, , cetik buntek dari usus be buntek, cetik krawang , cetik singar mangsi, ataupun cetik badung.