Mengenal Gamelan Bali: Alat Musik Tradisional Khas Bali


Pulau Bali selain terkenal dengan Pulau Dewata sebab banyaknya pura yang ada juga kental dengan kebudayaannya. Salah satu di antaranya adalah kesenian Gamelan Bali. Masyarakat Bali lebih sering menyebutnya ‘’gambelan’’ yang mempunyai khas tersendiri dan berbeda dengan gamelan pada umumnya. Gamelan Bali bunyinya cenderung berkecepatan tinggi, meledak-ledak, dan bagian-bagian gending lebih dinamis. 

Kecepatan ritme musik yang nyaring disebabkan oleh salah satu perangkat bernama ceng-ceng. Ukurannya sangat kecil seperti simbal. Agar mengetahui lebih dalam tentang Gamelan Bali, simak sejarah, perkembangan, serta tradisi yang diiringi oleh Gamelan Bali.

Sejarah Gamelan Khas Bali & Perkembangannya

gamelan bali
(sumber gambar: 1001indonesia.net)

Gamelan Bali dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu Gamelan Tua, Madya, dan Baru. Ketiga jenis Gamelan Bali tersebut diklasifikasikan berdasarkan jenis, wujud, dan sifat asambelnya. Tumbuh tunas kesenian Gamelan Bali dimulai dari masa prasejarah (2000 SM VIII SM), masa pemerintahan para Raja Bali Kuno (Abad IX XIV), masa kedatangan orang-orang Majapahit dan kejayaan para Raja Gel-gel dan Klungkung (Abad XIV XIX), masa pemerintahan Belanda (1846-1945 M), masa kemerdekaan Republik Indonesia (1945 M, Akhir Abad XX), dan yang terakhir masa kini (Akhir Abad XX, Awal Abad XXI). 

Dikisahkan pada masa lampau terdapat hubungan antara kerajaan Jawa dan Bali. Gamelan salah satu kesenian yang dibawa masuk dari Jawa ke Bali. Oleh sebab itu Gamelan Bali sekilas mirip dengan Gamelan Jawa. Seiring waktu, Gamelan Bali lebih berkembang ketika pada masa Kerajaan Gelgel. Nama Gamelan pada masa itu adalah Gamelan Gambang.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Gelgel, Bukti Kejayaan Bali di Masa Lampau

Gusti Ngurah Klanting adalah salah satu putra dari Dalem Watu Rengggong yang tidak menerima I Gusti Ngurah Tabanan, kakaknya, dinobatkan menjadi raja. Dalem Watu Renggong mengetahui hal tersebut dan menghukum Gusti Ngurah Klanting dengan cara mengutusnya untuk mencari lontar milik wong gamang (orang halus). Singkat cerita, Gusti Ngurah Klanting membawa lontar yang diminta ke hadapan Dalem Watu Renggong. Ternyata sangat sangat sesuai keinginan Dalem hingga membuatnya terkejut.

Akhirnya Dalem Watu Renggong membagi kerajaan menjadi dua, salah satunya adalah Gusti Ngurah Klanting sebagai rajanya dengan syarat membuat seperangkat gamelan yang gendingnya diambil dari lontar orang halus tersebut. Maka, dinamakanlah gamelan tersebut menjadi gamelan Gambang yang diambil dari kata gamang sesuai bahan bakunya.

Baca Juga: Upacara Ngaben, Ritual Pembakaran Jenazah Diiringi Gamelan

Terciptanya gamelan gamang difungsikan sebagai pengiring upacara Ngaben (Pitra Yadnya) sesuai petunjuk dari I Gusti Ngurah Klanting pada masanya. Lebih dari itu, gamelan gambang merambah hingga Sembuwuk. Seorang keluarga Arya Simpangan (sekarang sekaa gambang) pernah tinggal di kerajaan Tabanan dan merasa senang, hingga ia kembali ke Sembuwuk dan tertarik untuk membuatnya juga. Akhirnya, gamelan gambang juga ada di Banjar Sembuwuk, Desa Pejeng Kaja,

Berbagai Jenis Gamelan Bali yang Umum Digunakan 

gamelan bali
(sumber gambar: yuksinau.id)

Gamelan Bali dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu Gamelan Tua (Gamelan Wayah), Gamelan Madya, dan Gamelan Baru (Anyar). Gamelan jenis pertama adalah gamelan tua. Gamelan tua diperkirakan sudah ada sebelum abad ke-15 M. Perangkat dari Gamelan Tua didominasi alat berbentuk bilahan serta belum dilengkapi kendang. Jikapun ada kendang, pemakaiannya jarang dipakai. Gamelan yang termasuk dalam Gamelan tua ini adalah angklung, gender wayang, baleganjur, genggong, bebonangan, geng beri, carok, gong luwang, gambang, dan selonding.

Baca Juga: Gamelan Bumbang, Alat Musik Tradisional Khas Bali

Jenis yang kedua adalah Gamelan Madya. Gamelan ini muncul kisaran abad ke-16 hingga ke-19 M. Keberadaan kendang sudah digunakan dalam gamelan ini bersama instrument-instrumen berpencon. Gamelan yang termasuk didalamnya adalah batel barong, bebarongoan, joged pingitan, penggambuhan, gong gede, pelegongan, dan semar pagulingan. Jenis terakhir adalah Gamelan Baru yang mulai ada kisaran abad ke-20 M. Gamelan ini lebih menonjolkan permainan kendang. Di antara yang termasuk Gamelan Anyar (Baru) adalah adi merdangga, manikasanti, bumbung gebyok, semaradana, bumbang, gong suling, geguntangan, jegog, genta pinara pitu, kendang mabarung, gong kebyar, okakan atau grumbungan, janger, tektekan, dan joged bumbung.

Selain tiga jenis yang dikategorikan berdasarkan waktu, masyarakat bali juga mengkategorikan berdasarkan bahan pembuatannya. Pertama, Gamelan Perunggu atau yang lebih dikenal dengan gamelan krawang sebab dirakit oleh ahli perunggu secara langsung. Kategori kedua adalah Gamelan Bambu yang bahan dasarnya tentu bambu. 

Gamelan Selonding merupakan gamelan ketiga yang terbuat dari besi. Gamelan jenis terakhir ini sangat langka dan antik. Selain perbedaan jenis di atas, ada juga perbedaan pada prinsip pemakaiannya. Wow! Menarik, bukan?

Ritual yang Identik Diiringi Gamelan Bali 

gamelan bali
(sumber gambar: masadena.com)

Gamelan Bali hampir tidak akan punah sebab masyarakatnya yang kental akan tradisi. Iringan gamelan bak sebuah gula pada teh manis. Tanpa gula, teh akan menjadi tawar. Gamelan Bali sering digunakan sebagai pengiring pertunjukan seperti tari, teater, dan drama. 

Namun, sebagian besar Gamelan Bali digunakan untuk ritual, dua diantaranya adalah upacara dewa yadnya yang diperuntukkan untuk roh/arwah dan upacara ngaben (upacara pembakaran mayat). Tak lekang oleh waktu, justru Gamelan Bali selalu berkembang sebab masyarakat Bali yang senantiasa terbuka oleh perkembangan zaman. 


Like it? Share with your friends!

Jarot Triguritno
Jarot is a content writer at Kintamani. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about travel