Mengenal Sosok Le Mayeur, Pelukis Belgia yang Cinta Mati dengan Bali

Le Mayeur

Kedatangan wisatawan asing ke Pulau Bali sering menimbulkan cerita menarik. Salah satunya adalah kisah tentang pelukis asal Belgia yang bernama lengkap Adrien-Jean Le Mayeur. Seniman yang satu ini terkenal karena memiliki rasa cinta yang sangat besar terhadap Tanah Bali. Sebagai buktinya, rumah yang dulu sempat ditinggalinya, kini menjadi sebuah museum seni budaya, yang dikenal dengan nama Museum Le Mayeur.

Le Mayeur 1 » Mengenal Sosok Le Mayeur, Pelukis Belgia yang Cinta Mati dengan Bali

Museum Le Mayeur yang terletak di kawasan Sanur, kini menjadi destinasi yang populer di Bali. Di sana, Anda bisa menemukan deretan hasil karya seni tinggi yang menjadi kreasi Le Mayeur. Saat berkunjung ke museum ini, Anda juga bisa mempelajari tentang kehidupan menarik semasa hidup Le Mayeur. Apalagi, beliau memiliki kisah cinta romantis dan menarik dengan seorang wanita asal Bali yang dikenal dengan nama Ni Pollok.

Kedatangan Pertama Kali Le Mayeur ke Pulau Bali

Le Mayeur memiliki nama lengkap Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres merupakan pria asal Brussels, Belgia yang lahir pada tanggal 9 February 1880. Hari-hari terakhirnya dihabiskan di Kota Ixelles, dan mengembuskan nafas terakhirnya pada 31 May 1958. Namun, Le Mayeur memiliki waktu yang sangat lama di Bali. Le Mayeur menginjakkan kakinya ke Bali untuk pertama kali di Kota Singaraja pada tahun 1932.

Pada momen pertama kali ke Bali tersebut, Le Mayeur sudah menunjukkan rasa cintanya. Tidak hanya karena kultur seni yang tinggi di Bali. Namun, tradisi budaya yang terjaga dengan baik juga membuat Le Mayeur sangat betah di Bali. Dia pun kerap menghabiskan waktunya untuk bersantai dan menikmati keindahan alami Bali. Di waktu yang sama, Le Mayeur juga suka dengan tarian tradisional dan tradisi masyarakat Bali ketika bersembahyang ke pura.

Menetap di Bali dan Bertemu Ni Pollok di Denpasar

Kedatangan ke Bali dan sambutan hangat dari masyarakat lokal, membuat Le Mayeur merasa nyaman. Oleh karena itu, kemudian dia menyewa sebuah rumah yang ada di Banjar Kelandis di Denpasar. Hal yang tak menyangka, keputusannya untuk menetap di Denpsar inilah yang menjadi awal mula pertemuannya dengan Ni Pollok. Saat itu, Ni Pollok masih berusia 15 tahun, dan dikenal sebagai seorang penari legong muda berbakat.

Pertemuan keduanya sering terjadi karena Le Mayeur menggunakan Ni Pollok sebagai model untuk lukisannya. Tidak hanya satu, beberapa lukisan dengan model Ni Pollok diciptakan oleh Le Mayeur sepanjang tahun 1932 sampai 1933. Lukisan-lukisan tersebut kemudian dibawanya ke pameran di Singapura. Tak menyangka, lukisan Le Mayeur dengan model Ni Pollok, ternyata mendapat sambutan yang antusias dari para pencinta seni di Singapura.

Karena kesuksesan pamerannya tersebut, Le Mayeur kemudian memilih untuk membeli sebuah rumah yang terletak di Sanur. Di sana, dia pun sering memanggil Ni Pollok bersama dengan kedua temannya untuk menjadi model. Awalnya, dia berencana hanya tinggal selama 8 bulan di Bali. Namun, pertemuan dengan Ni Pollok, membuat rencana itu berubah total. Alih-alih pulang setelah tinggal 8 bulan, Le Mayeur malah menghabiskan masa tuanya di Bali sampai jelang akhir hayatnya.

Ni Pollok yang awalnya hanya bertindak sebagai model lukisan, memiliki hubungan yang spesial dengan Le Mayeur. Keduanya pun secara resmi menjadi pasangan suami istri. Keduanya hidup secara rukun melewati berbagai masa sulit, termasuk ketika perang dunia II serta perang dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hingga akhirnya, pada tahun 1957, Le Mayeur terpaksa harus pulang ke Belgia, karena menderita kanker.

Wujud Rasa Cinta Tinggi Le Mayeur Kepada Bali

Dua bulan setelah pulang ke Belgia, Le Mayeur meninggal dunia, tepatnya pada 31 May 1958. Berbagai harta kekayaannya yang ada di Bali, kemudian diberikan secara penuh kepada Ni Pollok. Pada hari-hari terakhirnya, Le Mayeur ditemani secara setia oleh Ni Pollok. Sepulangnya dari Belgia, Ni Pollok kemudian tinggal ke rumah yang ditempati Le Mayeur di Bali sampai meninggal dunia 18 Juli 1985 di usia 68 tahun.

Sepeninggal Le Mayeur, rumah yang menjadi kenangan hidupnya masih dijaga dengan baik. Interior ruangannya juga masih tetap dipertahankan seperti asli. Apalagi, Ni Pollok telah secara resmi memberikan aset rumah tersebut kepada pemerintah untuk dijadikan sebagai museum. Di dalam bangunan ini, total terdapat sekitar 80 hasil karya lukisan dari Le Mayeur.