Mengenal Sosok Pecalang di Bali, Petugas Keamanan Adat yang Bekerja tanpa Gaji

Pecalang di Bali

via Kompas

Upaya dalam menjaga keutuhan budaya turun-temurun oleh masyarakat Bali memang patut diacungi jempol. Mereka terus mencoba agar kemajuan teknologi tidak menggerus tradisi nenek moyang. Banyak bukti yang bisa diperlihatkan, termasuk di antaranya adalah keberadaan sosok pecalang di Bali.

Pecalang di Bali 1 » Mengenal Sosok Pecalang di Bali, Petugas Keamanan Adat yang Bekerja tanpa Gaji

via Berita Satu

Pecalang merupakan tokoh yang punya peran sangat penting dalam menjaga adat istiadat masyarakat Bali. Mereka memiliki peran penting seperti halnya polisi. Hanya saja, tugas serta kewajiban dari seorang pecalang, hanya berkaitan erat dengan adat. Hebatnya, dalam menjalankan tugas tersebut, para pecalang tidak memperoleh imbalan apapun.

Tugas Berat Seorang Pecalang

Menyebut pecalang sebagai sosok petugas keamanan memang menjadi istilah sederhana yang digunakan dalam menjelaskan tugas serta kewajiban mereka. Namun, siapa sangka kalau menjadi pecalang ternyata jauh lebih berat dibandingkan dibandingkan petugas keamanan yang resmi dipekerjakan pemerintah seperti hansip serta polisi.

baca juga: Konsep Desa Pakraman yang Menjadi Upaya Pemersatu Masyarakat Bali Sejak Zaman Dulu

Pecalang di Bali 2 » Mengenal Sosok Pecalang di Bali, Petugas Keamanan Adat yang Bekerja tanpa Gaji

via Kompas

Ada 3 alasan utama yang membuat kenapa tugas pecalang sangat berat. Alasan pertama adalah karena lingkup kerja yang bisa sangat luas. Keberadaan pecalang berkaitan erat dengan status desa adat atau pakraman yang ada di Bali. Mereka perlu menerapkan aturan yang telah ditentukan berdasarkan adat pada wilayah desa adat atau pakraman.

Tugas tersebut menjadi berat karena terkadang aturan adat tidak memiliki standar yang jelas. Anda bisa saja menemukan bahwa aturan adat di satu desa pakraman dengan desa adat yang lain beda dan bahkan sangat kontras. Tidak hanya itu, terkadang wilayah desa pakraman jauh lebih luas dibandingkan dengan wilayah desa dinas.

baca juga: Upacara Sambah Ayunan, Tradisi Unik Bermain Bersama yang Bertujuan Menolak Bala

Alasan kedua adalah tidak adanya sanksi yang jelas terhadap para pelanggar aturan adat. Di Bali, Anda tidak akan menemukan aturan tertulis mengenai sanksi yang bakal diberikan kepada setiap orang yang melanggar, baik yang merupakan warga Bali ataupun wisatawan. Karena tidak ada sanksi yang jelas, tidak heran kalau jumlah pelanggar aturan adat cukup tinggi.

Alasan yang terakhir adalah karena pecalang bekerja tanpa digaji. Dalam tradisi masyarakat Bali, menjadi pecalang adalah bagian dari kebiasaan yang disebut ngayah. Padahal, di sisi lain, para pecalang tersebut memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya. Sungguh berat, bukan?

Belum lagi, pecalang terkadang juga bisa memperoleh pekerjaan tambahan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kerjasama antara pecalang dengan pihak kepolisian. Sebagai tambahan, tugas tersebut kian berat karena pecalang perlu siap sedia kapan saja selama memperoleh panggilan tugas.

Hak yang Dimiliki Pecalang di Bali

Meski punya tanggung jawab serta tugas yang berat, pecalang memiliki beberapa hak yang memberikan keuntungan. Karena tugas yang berat tersebut, pecalang memiliki hak untuk bisa tidak ikut serta dalam aktivitas gotong royong. Selain itu, pecalang juga tidak perlu membayar iuran rutin yang dibayarkan ke banjar.

Tidak ketinggalan, pecalang juga disertai dengan atribut yang membedakan mereka dengan warga biasa. Atribut tersebut berupa pakaian adat khas pecalang. Meski tidak mendapatkan gaji, pecalang punya hak untuk memperoleh hasil bagi dari denda uang yang berasal dari para pelanggar aturan adat.

Dalam beberapa bulan terakhir, kemungkinan nasib para pecalang bakal bertambah baik. Apalagi, rancangan aturan terbaru, mengupayakan adanya gaji atau honor yang diberikan secara khusus kepada para pecalang.