Patung Catur Muka Bali, Patung Empat Wajah yang Menjadi Landmark Denpasar

Patung Catur Muka Bali

via Bale Begong

Menyebut Patung Catur Muka Bali sebagai landmark Kota Denpasar memang bukan tanpa alasan. Patung ini berlokasi di area yang strategis, tepatnya di depan kantor Wali Kota Denpasar. Sesuai dengan namanya, Patung Catur Muka ini memiliki empat wajah yang masing-masing sengaja menghadap ke empat arah mata angin.

Keberadaan Patung Catur Muka Bali juga bukan sekadar hiasan. Tampilan dari patung ini memang memiliki nilai estetika sendiri. Apalagi, kreatornya merupakan seorang pembuat patung yang terkenal dari Desa Ubud yang dikenal sebagai kampungnya para seniman. Nama pemahat patung ini adalah I Gusti Nyoman Lempad.

Patung Catur Muka Bali 1 » Patung Catur Muka Bali, Patung Empat Wajah yang Menjadi Landmark Denpasar

via Melancong ke Bali

Tidak hanya memiliki penampilan yang unik dan berseni tinggi, bahan yang digunakan untuk pembuatan Patung Catur Muka juga merupakan batu pilihan. Patung granit berukuran besar secara khusus disiapkan untuk membuat patung setinggi 9 meter ini. Selanjutnya, empat wajah yang dimiliki Patung Catur Muka Bali, masing-masing menghadap Jl. Surapati, Jl. Udayana, Jl. Veteran, dan Jl. Gajah Mada.

baca juga: Monumen Bajra Sandhi, Wisata Edukasi Sejarah Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar

Sejarah Patung Catur Muka Bali

Keberadaan patung ini juga memiliki nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Kota Denpasar. Ide dari pembuatan patung, muncul setelah pengesahan lambang daerah Kabupaten Badung. Penetapan lambang tersebut berlangsung pada tahun 1971. Selanjutnya, terdapat SKP tertanggal 28 Desember 1971 yang mengamanatkan penugasan untuk pembuatan gambar pra rencana monumen yang bakal ditempatkan di Perempatan Agung Denpasar.

Patung Catur Muka Bali 2 » Patung Catur Muka Bali, Patung Empat Wajah yang Menjadi Landmark Denpasar

via Bale Begong

Desain patung dengan empat wajah pun menjadi desain yang diusulkan dalam pembuatan patung tersebut. Patung Empat Muka, nama yang diusulkan, diambil dari filosofi yang ditemukan pada lontar-lontar peninggalan zaman dahulu. Patung ini pun dipercaya memiliki nilai filosofi berkaitan erat dengan kepemimpinan. Keberadaannya, tidak berkaitan dengan patung yang digunakan untuk persembahyangan.

baca juga: Pantai Segara Ayu Denpasar, Pantai dengan Pemandangan Sunrise Memukau

Lontar-lontar yang menjadi panduan dalam pembangunan serta perancangan Patung Catur Muka Bali di antaranya adalah lontar Widdhi Sastra, Siwa Gama, Gedong Wesi, Garuda Carita, Ramayana, Usana Bali, Babad Bali, Siwa Sesana, Brahma Tatwa, Niti Sastra, serta Kerta Tatwa. Dalam perumusannya, pembangunan patung ini melibatkan beberapa tokoh, termasuk di antaranya adalah Drs. I Wayan Mertha Sutedja I Nyoman Swetja Atmanadi, I Gusti Agung Kepakisan, serta I Gusti Agung Mayun Eman.

Arti Empat Wajah dari Patung Catur Muka Bali

Sosok dari Patung Catur Muka Bali ini sendiri merupakan representasi dari Dewa Brahma. Empat wajah yang dimilikinya pun punya representasi sifat tersendiri. Wajah yang menghadap ke timur, disebut Shanghyang Iswara merupakan perwakilan dari sikap bijaksana. Wajah Sanghyang Brahma yang menghadap selatan, merupakan representasi penjaga ketentraman.

Sementara itu, Sanghyang Mahadewa yang menghadap ke arah barat atau dikenal sebagai pascima merupakan bentuk dari karunia kasih sayang. Terakhir, Sanghyang Wisnu yang wajahnya menghadap ke arah utara, merupakan representasi dari kekuatan yang memiliki kemampuan untuk menyucikan jiwa manusia.

Hanya saja, filosofi serta makna dalam yang dimiliki oleh Patung Catur Muka Bali kini kurang diketahui oleh kawula muda Bali. Bahkan, banyak yang menganggap patung ini sekadar patung yang dibuat untuk mempercantik jalanan Kota Denpasar. Apalagi, patung ini memang terlihat begitu cantik, dengan dikelilingi air mancur di sekitarnya. Tak heran kalau banyak wisatawan yang berburu foto instagramable selama di sini.