Perang Air atau Siat Yeh Jimbaran, Upaya Membangkitkan Tradisi Zaman Dulu

Siat Yeh Jimbaran

via Berita Bali

Tradisi perang air bukan hal yang asing di Bali. Kebiasaan ini bisa Anda temukan di Desa Suwat, Gianyar. Selain itu, ada pula tradisi perang air atau siat yeh Jimbaran. Pengadaan tradisi ini merupakan upaya untuk membangkitkan kebiasaan yang kini mulai ditinggalkan oleh banyak warga Bali. Pada tahun 2018 lalu, mereka mengadakan tradisi yang telah ditinggalkan ini di Catus Pata-Banjar Teba yang berlokasi di Jimbaran, Badung.

Siat Yeh Jimbaran 2 » Perang Air atau Siat Yeh Jimbaran, Upaya Membangkitkan Tradisi Zaman Dulu

via Berita Bali

Bagi warga setempat, pelaksanaan siat yeh Jimbaran merupakan upacara penglukatan agung. Seperti yang diketahui, tradisi melukat merupakan upacara yang dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan pikiran serta jiwa secara spiritual. Dengan begitu, pribadi yang telah menjalani upacara melukat, bisa bebas dari pikiran kotor yang ada dalam dirinya.

baca juga: Tradisi Perang Air di Bali, Cara Masyarakat Suwat Merayakan Tahun Baru

Pelaksanaan tradisi siat yeh Jimbaran itu dilakukan bertepatan dengan Ngembak Geni. Ngembak Geni merupakan momen satu hari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi yang dilakukan oleh umat Hindu Bali. Pada pelaksanaannya, perang air di Jimbaran ini dapat diikuti oleh siapa saja. Tidak hanya terbatas pada masyarakat setempat, tetapi juga bisa diikuti oleh wisatawan.

Makna Tradisi Siat Yeh Jimbaran Bagi Warga Banjar Teba

Seperti halnya tradisi lain, siat yeh Jimbaran bukan merupakan sebuah aktivitas perang air biasa. Di dalamnya, Anda bisa mengetahui simbol serta makna yang begitu dalam. Bahkan, siat yeh dianggap sebagai upaya untuk berperang melawan segala keinginan yang ada dalam diri sendiri dengan tujuan terhindar dari hal-hal buruk.

Siat Yeh Jimbaran 1 » Perang Air atau Siat Yeh Jimbaran, Upaya Membangkitkan Tradisi Zaman Dulu

via Merdeka

Siat yeh Jimbaran sendiri terdiri dari 2 kata, yakni siat dan yeh. Siat dalam bahasa Bali merupakan kata yang punya arti perang. Kata ini menjadi representasi adanya peperangan yang setiap hari dihadapi oleh setiap manusia. Peperangan tersebut adalah perang melawan dirinya sendiri.

baca juga: Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare-kare di Desa Tenganan

Sementara itu, yeh adalah kata dalam bahasa Bali yang artinya air. Bagi masyarakat Bali, air memiliki peran yang begitu penting, karena merupakan sumber kehidupan manusia. Oleh karena itu, keberadaan sumber mata air alami harus dijaga dan dihormati. Dengan begitu, masyarakat setempat bisa memperoleh manfaatnya dan mencapai kemakmuran.

Pelaksanaan Siat Yeh Jimbaran

Pelaksanaan siat yeh Jimbaran dilakukan dengan tujuan untuk mempertemukan dua mata air yang ada di wilayah setempat. Perlu diketahui, dua mata air yang dimaksud adalah Suwung dan air pantai. Pada zaman dulu, sebelum kemajuan industri pariwisata di Jimbaran, kedua mata air ini mengalami pertemuan secara alami ketika tengah kondisi pasang.

baca juga: Perang Ketupat Desa Adat Kapal, Tradisi Wujud Rasa Syukur Masyarakat Hindu Bali

Hanya saja, seiring dengan kemajuan industri pariwisata di Jimbaran, percampuran air dari kedua mata air tersebut sudah tidak lagi memungkinkan. Oleh karena itu, dengan adanya siat yeh Jimbaran, warga Banjar Teba berharap agar terjadi percampuran antara keduanya. Dengan begitu, mereka bisa memperoleh kemakmuran seperti yang diinginkan.

Tidak hanya itu, masyarakat Banjar Teba juga percaya kalau air dari Suwung dan pantai punya energi spiritual yang begitu unik. Pengelolaan energi yang tepat, bisa berdampak begitu positif, bagi warga Banjar Teba pada khususnya dan warga Jimbaran pada umumnya.

Itulah salah satu tradisi unik perang air yang bisa Anda temukan di Banjar Teba, Jimbaran. Menarik, kan?