Perang Ketupat Desa Adat Kapal, Tradisi Wujud Rasa Syukur Masyarakat Hindu Bali

Perang Ketupat Desa Adat Kapal

via balimediainfo

Banyak sekali tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Bali, salah satunya yang ada adalah Perang Ketupat Desa Adat Kapal. Apabila anda sedang liburan di Bali, terkadang anda juga akan beruntung dapat melihat sebuah perayaan atau upacara adat yang rutin diadakan oleh masyarakat sekitar.

Mungkin, yang anda ketahui apabila perang pastinya akan membawa senjata tajam seperti pedang atau membawa senjata api. Tetapi, kali ini terdapat sebuah tradisi unik, yaitu Perang Ketupat Desa Adat Kapal.

Perang Ketupat Desa Adat Kapal 1 » Perang Ketupat Desa Adat Kapal, Tradisi Wujud Rasa Syukur Masyarakat Hindu Bali

via balimediainfo

Tradisi Perang Ketupat Desa Adat Kapal

Perang Ketupat sendiri merupakan sebuah tradisi unik yang dapat anda temui di Desa Kapal, Kecamtan Mengwi, Kabupaten Badung. Seperti namanya sendiri, yaitu Perang Ketupat. Tradisi ini merupakan sebuah kegiatan lempar-lemparan ketupat. Perang disini bukan berarti berkelahi karena rasa permusuhan, tetapi merupakan sebuah tradisi untuk menunjukkan rasa syukur.

baca juga: Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare-kare di Desa Tenganan

Perang Ketupat ada sebagai bentuk rasa syukur kepada sang Maha Pencipta atas segala keberkahan yang dilimpahkan. Masyarakat yang ada di Desa Kapal sendiri juga mempercayai, bahwa dengan digelarnya perang ketupat ini akan mendatangkan kesejahteraan.

Perang Ketupat Desa Adat Kapal 3 1024x680 » Perang Ketupat Desa Adat Kapal, Tradisi Wujud Rasa Syukur Masyarakat Hindu Bali

via balimediainfo

Tradisi yang satu ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Perang Ketupat Desa Adat Kapalmelibatkan dua kelompok laki-laki dimana mereka masing-masing mempersenjatai diri mereka dengan sejumlah ketupat dan kue bantal nasi.

baca juga: Desa Batubulan Gianyar, Dari Ukiran Khas Tradisional Hingga Tari Barong Bali Ada di Tempat Ini

Prosesi Perang Ketupat Desa Adat Kapal

Sebelum upacara perang ketupat dimulai, warga Desa Kapal akan melakukan persembahyangan bersama terlebih dahulu di pura setempat, yang dipimpin oleh seorang pemangku agama.

Setelah persembahyangan, pemangku akan memercikan tirta atau air suci kepada para warga, hal itu bertujuan agar selama prosesi berlangsung tidak ada gangguan atau hambatan, sehingga dapat berjalan lancar. Selanjutnya warga yang telah siap dengan ketupatnya masing-masing dikumpulkan untuk bersiap melawan musuh.

Para warga yang telah dibagi menjadi dua kelompok ini akan saling berhadapan di jalan raya Kepal depan pura dengan membawa ketupat mereka. Para laki-laki yang turut dalam perang ini harus bertelanjang dada.

baca juga: Tradisi Megibung Karangasem, Wajah Keunikan Budaya Tradisional Bali

Ketika aba-aba diteriakkan, mereka langsung saling lempar ketupat. Banyak sekali ketupat berterbangan serta berceceran di jalan. Ketupat-ketupat tersebut juga mengenai badan hingga bagian kepala para warga.

Walaupun terlihat seperti sebuah pertempuran, dalam perang ketupat ini tidak ada kata dendam. Semua aksi lempar-lemparan ketupat ini berjalan sorak sorai dan seru. Mereka bergembira bersama, bahkan kepada orang yang baru saja dikenal sekalipun.

Perang ketupat ini berjalan kurang lebih selama 30 menit. Setelah saling lempar ketupat, para warga pun mengakhirinya dengan tawa dan saling berjabat tangan. Perang ketupat diadakan terbuka, jadi apabila anda beruntung anda dapat menemui perang ketupat ini dang menyaksikan keseruannya.

Anda yang datang dari Denpasar dapat menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit dengan berkendara untuk sampai di Desa Kapal. Anda akan sangat beruntung jika menyaksikan tradisi Perang Ketupat Desa Adat Kapal ini sebab, tradisi ini dilakukan setahun sekali.

Tradisi Perang Ketupat ini terbuka untuk umum. Jika Anda menyaksikannya siap-siap kemungkinan Anda akan ikut dilempari ketupat. Tentu Anda dapat membalasnya melempar ketupat tersebut. Semua dilakukan dengan suka cita tanpa ada dendam.