Pejuang Sejati, Inilah 5 Perlawanan Rakyat Bali Terhadap Penjajahan


1
1 point

Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda, 350 tahun lamanya. Tidak hanya tinggal diam, setiap daerah berjuang mengupayakan agar bisa terbebas dari pendudukan penjajah, termasuk rakyat Bali. Inilah perlawanan rakyat Bali yang memiliki daya juang tinggi. 

Sejarah Perlawanan Rakyat Bali Terhadap Penjajahan Belanda

perlawanan rakyat bali melawan penjajah
Sumber: Google.co.id

Perang juga disebut sebagai puputan di Bali. Dalam bahasa Bali, kata puput memiliki makna tanggal, putus, atau mati. Jadi dapat disimpulkan bahwa perang puputan memiliki makna berjuang sekuat tenaga hingga meraih kemenangan, atau sampai pada titik darah penghabisan. Artinya, para pejuang di Bali tidak akan menyerah kalah dan lebih memilih berjuang hingga gugur.

Masyarakat Bali memiliki karakteristik sangat menjunjung tradisi dan adat istiadat leluhurnya. Hal ini masih tampak hingga sekarang. Karakteristik inilah yang berbenturan dengan kehendak penjajah pada masa itu. Beberapa aturan adat yang hendak diubah oleh pihak Belanda membuat rakyat Bali melakukan perlawanan hingga pecah perang, seperti beberapa pertempuran ini.

1. Puputan Buleleng 1846

Pada masa itu, kerajaan-kerajaan yang ada di Bali memiliki aturan yang telah ada sejak leluhur mereka, yaitu hak Tawan Karang. Ini adalah tradisi berupa penguasaan terhadap kapal yang terdampar atau karam di wilayah kerajaan. Jadi, kapal beserta isinya merupakan hak milik dari kerajaan setempat.

Namun, Belanda ingin menghapuskan aturan tersebut, meskipun banyak kerajaan yang menolaknya. Contohnya Buleleng, Karangasem, dan Klungkung. Akhirnya pada tahun 1846, Belanda menyerbu ke Bali dengan mengerahkan 1.700 pasukan di bawah pimpinan Van Den Bosch.

Jiwa patriotisme masyarakat Bali saat itu tersulut, sehingga sekuat tenaga menghadang serangan pasukan Belanda selama dua hari. Sayangnya, pejuang Bali harus kalah akibat persenjataan lawan yang lebih canggih. Kekalahan tersebut membuat pihak kerajaan di Bali harus menandatangani sebuah perjanjian damai pada tanggal 6 Juli 1846.

2. Puputan Jagaraga 1848-1849

Selanjutnya, perlawanan rakyat Bali tidak berhenti sampai disitu saja. Raja Buleleng sebenarnya masih berupaya menyusun strategi untuk melawan Belanda, meskipun sudah ada perjanjian damai. Penyebabnya adalah perjanjian tersebut dinilai merugikan kerajaan Bali dan Karangasem. 

Isi dari perjanjian tersebut adalah mengakui kekuasaan Belanda, dihapuskannya tawan karang, dan harus membayar biaya perang yang dikeluarkan pihak Belanda. Karena merasa dirugikan, Raja I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ketut Jelantik memindahkan kerajaan Buleleng ke Jagaraga, melalui banyak pertimbangan.

Lokasi kerajaan yang baru ini di atas bukit dengan jurang untuk memudahkan strategi perang. Selain itu, aksesnya cuma satu, yaitu melalui desa Sangsit dan tergolong dekat dengan pabean. Letak yang cukup strategis ini dinilai merupakan keuntungan bagi pihak kerajaan Buleleng. Di tempat baru inilah, disusun strategi dan pelatihan pasukan, termasuk pembangunan benteng.

Baca Juga: Melihat Megahnya Monumen Perang Puputan Jagaraga

Belanda yang mulai merasa gerah atas tindakan kerajaan Buleleng ini akhirnya menyerbu pelabuhan Sangsit. Mereka mengerahkan armada sebanyak 22 kapal perang, pada tanggal 8 Juni 1848. Serangan balik dari Buleleng menggunakan strategi supit urang. Mereka berhasil memukul mundur lawan dengan menjatuhkan 250 korban tewas dari pihak musuh.

Selanjutnya, pada 14 April 1849, Belanda kembali menyerang dan berhasil menghancurkan benteng Jagaraga. Raja dan I Gusti Ketut Jelantik memutuskan melakukan perjalanan ke Kerajaan Karangasem untuk mencari bantuan. Sayangnya, di tengah perjalanan, mereka gugur akibat bertempur melawan pasukan Belanda. 

3. Perang Kusamba 1849

Lokasi perang ini di kerajaan Klungkung, pada tanggal 24-25 Mei 1849. Tepatnya adalah di Desa Kusamba, wilayah timur Semarapura yang merupakan pelabuhan penting Kerajaan Klungkung. Di desa tersebut berdiri juga Kerajaan Kusanegara dengan pemimpinnya adalah Raja I Dewa Agung Putra.

Lagi-lagi, penyebab dari pertempuran adalah tradisi Tawan Karang yang ingin dihapuskan oleh Belanda. Pemicunya perampasan terhadap dua perahu Belanda yang terdampar di daerah tersebut. Hal ini mengakibatkan pihak Belanda mengerahkan pasukan yang sebelumnya menang di pertempuran Jagaraga dan menyerang Kerajaan Klungkung.

Awalnya Kerajaan Klungkung berhasil dikalahkan dan membuat Kusamba jatuh ke tangan Belanda. Namun, pihak kerajaan melakukan serangan balik dini hari yang membuat pasukan Belanda kalang kabut. Dalam kondisi kelelahan dan belum mengenal medan, akhirnya Pihak Belanda terpaksa mundur akibat meninggalnya Jenderal Michiels, pemimpin mereka.

4. Puputan Margarana 1946

Indonesia telah merdeka pada tahun 1945. Namun, hingga setahun kemudian, pihak Belanda masih memiliki ambisi untuk menguasai dan membentuk NIT (Negara Indonesia Timur). Tentu saja Masyarakat Bali terus semangat berjuang demi kemerdekaan. Oleh karena itu, mereka menyerang markas Belanda Pada tanggal 18 November 1946.

Hal ini membuat pihak Belanda geram dan pecah perang di Kecamatan Margarana, Tabanan. Kegigihan pasukan Bali di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai sempat membuat Belanda kelabakan dan berhasil dipukul mundur setelah pertempuran berlangsung dua hari lamanya.

Sayangnya, pihak Belanda kemudian melakukan serangan balik dengan mengirimkan pesawat untuk memburu pasukan Bali. I Gusti Ngurah Rai menyerukan kata “puputan” yang menyemangati pasukannya untuk bertempur habis-habisan. Pada tanggal 20 November 1946, I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya gugur dalam pertempuran puputan tersebut.

Begitu gagah dan berjiwa kesatria para pejuang dalam perlawanan rakyat Bali. Saat mengumandangkan puputan, mereka lebih memilih berjuang hingga ajal, daripada harus menyerah di tangan lawan. Tekad mereka hanya satu, yaitu mengusir penjajah dari tanah Bali.


Like it? Share with your friends!

1
1 point
Jarot Triguritno
Jarot is a content writer at Kintamani. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about travel

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *