Pura Melanting, Tempat Peribadatan Untuk Memuja Dewi Uang


Pulau Bali dihuni oleh masyarakat yang mayoritas merupakan umat agama Hindu. Itulah sebabnya ada banyak pura yang dibangun di seluruh penjuru pulau sebagai tempat ibadah. Terdapat beberapa jenis pura berdasarkan fungsinya dan tujuan didirikannya. Salah satunya adalah pura melanting.

Jenis Pura Di Bali Berdasarkan Fungsinya

Pura Melanting 1 » Pura Melanting, Tempat Peribadatan Untuk Memuja Dewi Uang
Sumber: Tripadvisor

Ada beberapa jenis pura yang ada di Bali sebagai tempat peribadatan umat Hindu. Masing-masing jenis pura memiliki fungsi dan karakteristiknya sendiri. Tempat ibadah tersebut dikelompokkan menjadi empat jenis. Selanjutnya, di bawah ini akan dijelaskan mengenai pembagian jenis sesuai dengan fungsinya.

1. Pura Kahyangan Jagat dan Dang Kahyangan Jagat

Ini merupakan jenis pura yang berfungsi untuk melakukan ibadah dalam memuja Tuhan. Masyarakat Hindu melakukan pemujaan kepada dewa-dewa yang dianutnya. Adapun Pura Dang Kahyangan Jagat merupakan tempat untuk melakukan pemujaan kepada guru suci atas jasanya menyebarkan agama Hindu di Bali.

Baca Juga: Wajib Tau, Jenis-Jenis Pura di Bali Berdasarkan Fungsinya

2. Pura Kahyangan Tiga

Pura Kahyangan Tiga adalah jenis bangunan suci yang merupakan tempat utuk melakukan pemujaan terhadap Dewa Siwa, Wisnu, dan Brahma. Pada setiap desa adat yang terdapat di Bali, pasti akan ditemui ketiga tempat suci utama ini. Hal ini merupakan wujud dari penghormatan dan kepatuhan masyarakat untuk mengaharapkan penghidupan yang baik.

Baca Juga: Wisata Pura Yang Instagenic di Bali

3. Pura Kawitan

Jenis berikutnya adalah Pura Kawitan. Ini merupakan pura yang pembangunannya ditujukan untuk menghormati asal-usul atau leluhur dalam sebuah garis keturunan. Bangunan ini merupakan wujud dari penghormatan terhadap roh leluhur yang suci dalam sebuah kelompok kekerabatan.

Di setiap rumah warga umat Hindu juga didapati tempat ibadah keluarga yang disebut merajan. Berbagai upacara keagamaan juga dapat dilakukan di sini. Upacara piodalan di merajan juga bisa dilakukan setiap enam bulan sekali. Tentunya dengan skala kecil karena merupakan Piodalan alit.

4. Pura Swagina

Pura ini merupakan kelompok pura yang fungsinya adalah sebagai tempat ibadah umat Hindu sesuai dengan mata pencahariannya. Pura ini terbagi menjadi pura untuk nelayan, petani dan pedagang. Bangunan tempat ibadah untuk pedagang inilah yang disebut Pura Melanting. Pura ini ditujukan sebagai tempat pemujaan Bhatari Melanting atau Ida Ayu Swabawa.

Sejarah Pura Melanting Di Buleleng

Salah satu di antara banyaknya tempat ibadah yang ada di daerah Buleleng, Bali, adalah Pura Melanting Singaraja . Pura ini digunakan untuk memuja Bhatari Melanting. Posisi bangunan suci ini berdekatan dengan Pura Pulaki, Pabean, dan beberapa tempat ibadah umat Hindu lainnya. Semua bangunan ini memiliki keterkaitan sejarah antara satu sama lain.

Pura untuk memuja Ida Ayu Swabawa ini memang diperuntukkan orang-orang yang memiliki mata pencaharian sebagai pedagang atau memiliki ikatan kekaryaan. Sebab, Ida Ayu Swabawa dianggap sebagai Dewi rezeki dan kemakmuran. Hal ini terkait dengan kisah bahwa putri dari Dang Hyang Nirartha ini sangat pandai berniaga dan mengajarkannya pada penduduk sekitar.

Salah satu ajaran yang sangat diutamakan adalah kejujuran dalam berniaga. Bhatari Melanting mengajarkan agar setiap umat Hindu yang melakukan jual beli, menghindari praktik-praktik kecurangan. Misalnya adalah dengan mencurangi timbangan agar mendapatkan keuntungan lebih. Hal ini untuk menghindari kerugian yang tidak diinginkan.

Jika curang, pedagang tersebut akan menerima konsekuensinya. Bisa saja dagangannya sangat ramai, tetapi ia tidak mampu mengumpulkan keuntungannya. Selalu ada saja kendala yang membuatnya kehabisan uang. Inilah yang membuat penganut ajaran Dewi Melanting sangat menjunjung tinggi kejujuran dalam berniaga.

Menurut kisah, dahulunya Ida Ayu swabawa ini ditugasi sang ayah, Dang Hyang Niratha, untuk menjaga ibunya yang sedang hamil tua. Mereka sedang di tengah perjalanan menuju arah timur. Namun, karena ibunya tidak kuat meneruskan perjalanan, diputuskan bahwa beliau akan beristirahat dan dijaga oleh Ida Ayu Swabawa beserta beberapa pengikutnya.

Keahlian yang dimiliki Puteri Dang Hyang Niratha ini adalah kemampuannya berniaga. Berkat keahliannya, lokasi tempat mereka tinggal menjadi pusat perniagaan yang maju. Sayangnya, sang ayah tak kunjung kembali. Akhirnya, ibunya memohon kepada dewa agar memiliki kehidupan abadi untuk meneruskan penantian. 

Permohonan yang terus menerus tersebut, pada akhirnya dikabulkan oleh para dewa. Namun, ada syarat yang harus disetujui, yaitu bahwa mereka tidak akan tampak oleh manusia hidup lainnya. Akhirnya, Ida Ayu Swabawa, ibunya, dan semua orang di desa itu hidup abadi, tetapi tidak terlihat. Desa itu pun lenyap dari pandangan orang awam.

Itulah tadi kisah tentang Pura Melanting yang ada di Bali. Ada beberap versi yang menceritakan tentang kisah perjalanannya. Namun, secara garis besar, menceritakan tentang keahlian Ida Ayu Swabawa dalam memikat dan mengetahui keinginan pembeli. Itulah sebabnya, masyarakat memuja Dewi Melanting sebagai pemberi rezeki dan kekayaan.


Like it? Share with your friends!

Jarot Triguritno
Jarot is a content writer at Kintamani. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about travel