Raja Jayapangus, Pemimpin Bali yang Terkenal Menjunjung Keberagaman


Bali adalah suatu wilayah di Indonesia yang banyak dikenal hingga ke mancanegara karena keindahan alam dan budayanya. Dulunya, di Bali dikenal beberapa raja. Salah satu pemimpin yang cukup dikenal adalah Raja Jayapangus, penguasa kerajaan Balingkang di Kintamani

Raja ini dinilai cukup menonjol dibandingkan raja-raja lainnnya. Dia cukup disegani dan disayangi rakyatnya. Hal ini juga disebabkan oleh kepemimpinannya yang berhasil membuat daerah kekuasaannya berkembang cukup pesat. Berikut ini adalah penjelasan masa kepemimpinan raja tersebut.

Mengenal Profil Raja Jayapangus

raja jayapangus
sumber: bulelengkab.go.id

Profil Raja Jayapangus merupakan sosok raja yang cukup disegani dan dicintai rakyatnya. Beliau merupakan raja yang berasal dari dinasti Warmadewa dan memerintah setelah raja Ragajaya. Raja yang sangat terkenal di Bali tersebut, memiliki garis keturunan yang berasal dari penguasa yang dikenal, yaitu Airlangga. 

Raja ini dinilai cukup menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya. Hal ini tampak pada ajakannya kepada masyarakat untuk kembali melestarikan upacara keagamaan untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, pada masa pemerintahannya, agama Hindu memiliki perkembangan yang signifikan, bahkan dijadikan dasar pemerintahan.

Bahkan, sejarah mencatat bahwa sosok raja ini disebut-sebut sebagai penyelamat karena telah berhasil membawa rakyatnya lebih patuh pada aturan-aturan agama. Ketentraman yang diperoleh masyarakat, membuat kehidupan menjadi makmur, aman dan tenteram. Semua berkat aturan yang dikeluarkannya.

Raja ini juga sangat terbuka terhadap keberagaman, Selama pemerintahannya, tidak ada kaum minoritas yang tertindas atau disisihkan. Walaupun berasal dari suku yang berbeda sekalipun, tetap diterima masyarakat. Itulah sebabnya perekonomian juga berkembang pesat akibat adanya kerjasama dengan bangsa lain.

Karena semasa pemerintahannya cukup terbuka terhadap kerja sama dengan suku bangsa lain, tak heran jika pengaruh Tionghoa juga tampak pada budaya Bali. Ditambah lagi karena pernikahannya dengan seorang wanita dari Tionghoa yang bernama Kang Ching Wie, putri seorang saudagar.

Sejarah dan Kisah Pemerintahan Raja Jayapangus di Kerajaan Balingkang

Sejarah mencatat bahwa Raja Jayapangus ini memerintah tidak cukup lama, yaitu pada kurun waktu tahun 1178 hingga 1181 M. Hal yang cukup dikenal selama masa pemerintahannya adalah 43 prasasti yang dikeluarkan olehnya dalam kurun waktu tiga tahun. Beberapa di antara prasasti tersebut mengatur mengenai pajak.

Semasa pemerintahan raja ini, wilayah kerajaan terjaga dari kejahatan. Kehidupan berjalan aman, tenteram, dan toleransi pun dijunjung tinggi. Keberagaman yang terdapat di masyarakat dapat diterima baik melalui adanya toleransi. Dengan demikian, terjadi adanya asimilasi dan akulturasi budaya, termasuk dengan budaya Tionghoa.

Kisah pemerintahan Raja Jayapangus ini juga tak lepas dari kitab-kitab hukum Hindu yang dijadikan sebagai pedoman dalam melaksana kan pemerintahan. Beberapa di antaranya adalah kitab Manawakamandaka, dan Dharmasastra. Raja tersebut juga menerapkan ajaran tentang sepuluh sifat baik bagi pejabat negara, yaitu Dasasila.

Legenda yang Berkembang Di Masyarakat

jayapangus
(sumber: Bisniswisata.co.id)

Sebuah legenda berkembang di masyarakat terkait kehidupan Penguasa kerajaan di Bali ini. Kisah bermula dari pernikahannya dengan Kang Ching Wie yang tidak dikaruniai anak. Setelah bertahun-tahun mengharapkan hadirnya penerus, akhirnya sang Raja memutuskan untuk melakukan pertapaan. 

Pertapaan ini bertujuan untuk memohon hadirnya anak sebagai penerus, mengingat dia adalah raja yang harus memiliki keturunan. Akhirnya, Kang Ching Wie melepas suaminya untuk memulai ritual tapa yang direncanakannya. Pertapaan ini dilakukan di kaki Gunung Batur. 

Tidak disangka, pertapaan ini justru mempertemukan sang Raja dengan Dewi Danu, yang merupakan penguasa Danau Batur. Dewi Danu memiliki kecantikan yang sangat memesona. Itulah sebabnya, sang Raja Jayapangus pun terpesona pada kecantikannya dan memutuskan untuk menikahinya dengan mengaku masih berstatus bujang.

Setelah bertahun-tahun tidak kembali dari pertapaannya, akhirnya Kang Ching Wie memutuskan untuk menyusul suaminya. Begitu terkejutnya ia menemukan bahwa suaminya telah menikahi Dewi Danu, hingga muncullah kemarahannya. Tak terima dihina Kang Ching Wie dan merasa tertipu oleh sang Raja, Dewi Danu pun marah.

Dewi Danu berubah menjadi sosok yang mengerikan dan membakar keduanya hingga menjadi abu. Namun, masyarakat yang merasa kehilangan raja kebanggan mereka, memohon kepada Dewi Danu untuk memberikan maaf. Akhirnya, masyarakat diminta membuat pasangan arca yang dicampurkan abu keduanya. 

Dari kedua arca tersebut legenda Barong Landung berasal. Barong Landung dipercaya merupakan wujud sang Raja Balingkang yang dihidupkan kembali. Kedua sosok arca ini sangat dihormati masyarakat. Sosok Barong Landung itu, hingga kini menjadi simbol pemujaan terhadap raja yang mereka junjung.

Bukti Sejarah Yang Terjaga Hingga Kini

Beberapa peninggalan Raja Jayapangus masih terjaga hingga kini. Di antaranya adalah Goa Garba yang merupakan sebuah tempat pertapaan di dinding jurang sungai Pakerisan. Di dalam gua ini terdapat sebuah pahatan tulisan yang yang berbunyi “Sra”. Selain itu, ada peninggalan berupa prasasti yang dibuat pada masa pemerintahannya.

Peninggalan lainnya berupa akulturasi budaya Bali dengan budaya Tionghoa. Bahkan, beberapa pura di Bali memiliki sentuhan budaya Tionghoa. Hal ini karena di masa pemerintahannya, raja yang cukup terkenal ini terbuka terhadap adanya perbedaan dan memiliki toleransi sangat tinggi.

Itulah tadi sedikit penjelasan mengenai Raja Jayapangus yang merupakan pemimpin terkenal di masa Bali kuno. Seorang pemimpin yang dinilai berhasil dalam membawa masyarakat menuju kemakmuran dan ketentraman hidup. Selain itu, merupakan pemimpin yang memberi nuansa tambahan, berupa masuknya budaya lain.


Like it? Share with your friends!

Jarot Triguritno
Jarot is a content writer at Kintamani. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about travel