Sejarah Kintamani Bali, Kearifan Lokal yang Tidak Boleh Dilupakan


Sejarah Kintamani Bali yang terletak di Kabupaten Bangli memang cerita tentang kearifan lokal berbalut keindahan. Bagaimana tidak, jika mayoritas orang mengenal Bali sebagai surganya pantai dan laut namun di Kintamani kita akan mendapatkan suasana yang berbeda. Kintamani menawarkan suasana berbeda yang tidak dibatasi oleh pantai-pantai seperti umumnya tempat di Bali.

Kintamani menjadi satu-satunya wilayah di Pulau Bali yang merupakan daerah dataran tinggi dengan sejuknya hawa pegunungan. Anda bisa menyaksikan keindahan Gunung Batur dan Danau Batur di sana. Belum lagi desa-desa wisata dengan berbagai kearifan lokal masyarakat di dalamnya yang sangat sayang kalau tidak langsung didatangi. Membahas tentang keindahan alam Kintamani rasanya belum lengkap kalau kita tidak mengenal sejarah yang menyertainya.

Sekilas Tentang Sejarah Kintamani

Sumber: Travel Kompas

Sebagaimana tempat-tempat lainnya di Pulau Bali, Kintamani juga menyimpan jejak sejarah dan budaya yang elok. Sejarah tersebut kemudian berkembang menjadi kearifan lokal masyarakat setempat. 

Kintamani adalah desa yang menyimpan jejak kerukunan dan harmonisasi kehidupan umat dari 3 agama berbeda yaitu Hindu, Islam dan konfusius Cina. Bukti dari kerukunan tersebut masih bisa dilihat hingga sekarang visualisasi Pura Batur.

Saat menjejakkan kaki di pura tersebut Anda akan menyaksikan sendiri bagaimana pura tersebut didominasi oleh warna merah dan patung naga yang ditempatkan pada sisi kiri dan kanan. Ditambah dengan bau dupa yang menyengat ketika Anda memasuki wilayah pura tersebut. 

Berbagai cerita melatarbelakangi kisah di Pura Batur tersebut yang merupakan pura terbesar kedua setelah Pura Besakih. Menurut pada sumber sejarah yang ada disebutkan bahwa pada Danau Batur di Kintamani terdapat salah satu pura yang masuk ke dalam pura kahyangan jagat. 

Sejarah Lain Tentang Kintamani

Berbagai sumber menyebutkan bagaimana asal mula atau sejarah dari Kintamani yang kini cukup populer sebagai wisata alam di Bali. Berdasarkan dari berbagai sumber tersebut diketahui bahwa asal nama Kintamani adalah Cintamani dengan berbagai versi cerita yang menyertainya.

1. Menurut Drs. Nyoman Singgih Wikarman

Drs. Nyoman Singgih Wikarman merupakan seorang tokoh penggemar karya sastra kuno yang telah almarhum. Salah satu sastra yang didalamnya adalah sejarah dari Kintamani yang merupakan daerah asalnya. Nyoman berpendapat bahwa Kintamani atau Cintamani berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti sesuatu yang dapat memberikan kebahagiaan lahir dan juga batin.

Baca Juga: Keindahan Pura Ulun Batur

Selain bisa memberikan rasa bahagia lahir dan batin, Cintamani juga mendatangkan wahya adhyatmika dan bhukti mukti sehingga wajar kalau Raja Singha Mandawa yang berkuasa saat itu memberikan izin pada biksu untuk membangun pertapaan di tempat tersebut. Tempat yang dimaksud yaitu Bukit Cintamanimmal dengan keyakinan bahwa siapapun yang tinggal di sana akan mendapatkan kebahagiaan. Keyakinan tersebut terbukti hingga saat ini karena sudah banyak orang yang datang ke Kintamani merasa betah dan enggan untuk pulang.

2. Menurut Sukarto

Pada tahun 1980, tokoh lainnya bernama Sukarto menyampaikan pendapatnya tentang sejarah nama Kintamani. Sukarto mengatakan bahwa Cintamani berasal dari kata Cinta dan Mani. Cinta sendiri diartikan sebagai asmara atau percintaan sementara mani adalah manikam atau permata. Sehingga Cintamani bisa diartikan sebagai permata atau manikam yang sangat dicintai karena daya tariknya. Dari kata Cintamani mengalami perubahan menjadi Kintamani.

3. Menurut I Gede Pudja, MA, SH

Lain lagi dengan pendapat dari I Gede Pudja, MA, SH. Menurut beliau kisah tentang Kintamani bisa didapatkan dari Kitab Weda. Di kitab tersebut dikatakan bahwa Cintamani adalah nama dari seorang resi yang menulis kitab Danur Weda atau kitab peperangan. Maha Rsi Wira Cintamani adalah namanya. Kisah tentang Cintamani atau Kintamani tersebut dituliskan dalam Buku Weda Pengantar Agama Hindu, karangan dari I Gede Pudja, MA, SH.

4. Dalam Lontar Wrahespati

Sementara kisah tentang Kintamani yang cukup menarik bisa ditemukan dalam Lontar Wrahespati sloka 65. Di dalam karya sastra tersebut terdapat kata “Cintamani” yang diartikan sebagai “Asta Guna”. Masih menurut Lontar Wrahespati bahwa Asta Guna memiliki arti mencapai segala hal yang dikehendaki.  Jadi Cintamani yang disebutkan di dalam lontar tersebut memiliki arti kemampuan untuk mencapai segala apa yang dikehendaki. 

Keindahan Kintamani pernah diungkapkan oleh seorang dokter muda yang berasal dari negara Jerman bernama Gregor Krause. Melalui bukunya berjudul Bali 1912, Krause menggambarkan Bali sebagai tempat yang memiliki eksotisme dan kekayaan alam luar biasa dengan pesona wanita setempat yang tidak ada tandingannya.

Buku tersebut ditulis oleh Krause ketika bertugas di Bali dan ternyata tempat yang dimasud adalah Kintamani, wilayah pegunungan yang memiliki kehidupan penuh dengan budaya dan adat yang kental.

Itulah beberapa cerita mengenai sejarah Kintamani Bali yang merupakan wilayah dari Kabupaten Bangli, Pulau Dewata. Jika bosan dengan pantai namun ingin ke jalan-jalan di Bali mengapa tidak ke Kintamani saja.


Like it? Share with your friends!

Jarot Triguritno
Jarot is a content writer at Kintamani. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about travel

One Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *