Informasi Seputar Upacara Penganyar yang Ada di Bali


Dalam lingkup ajaran Hindu, ada tiga dasar pokok kehidupan yang saling mengisi, yaitu filsafat, tata susila, dan ritual upakara. Upakara ini kemudian lebih sering disebut sebagai upacara. Masyarakat Hindu memiliki beragam ritual upacara persembahan, salah satunya adalah upacara penganyar yang berada dalam kesatuan acara Upakara Ngenteg Linggih.

Upacara Ngenteg Linggih merupakan sebuah upacara adat, yang bertujuan untuk membangun sebuah Pura. Dalam tahapannya, ritual penganyar ini berada dalam urutan ke sepuluh. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk persembahan wujud syukur kepada Sang Hyang Widi. Karena diberikan kelancaran dalam proses rangkaian upacara ngenteg linggih

Fakta Menarik Upacara Penganyar

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa menurut sejarahnya, upacara suci ini merupakan bagian dari salah satu dari rangkaian upacara ngenteg linggih. Sehingga dalam pelaksanaannya ada banyak prosesi dan aturan adat yang menarik untuk diketahui lebih mendalam agar tidak salah urutan dan pakemnya. 

1. Memakai Pakaian Adat

upacara penganyar 1 » Informasi Seputar Upacara Penganyar yang Ada di Bali

Secara garis besar, pakaian adat Bali ada tiga, yaitu pakaian adat Bali nista, pakaian adat Bali madya dan pakaian adat Bali payas agung. Nah di upacara ini, pakaian adat yang dipakai merupakan jenis madya. Jenis ini terdiri dari kebaya putih, bulang, selendang dan kamben untuk perempuan. Jangan sampai salah ya. 

Sementara itu untuk laki-laki terdiri dari kemeja putih, kamben dan udeng. Tidak hanya itu, penampilan secara keseluruhan, dari atas kepala sampai bawah kaki, ada rules yang harus diikuti. Seperti halnya pada pakaian perempuan, ada aturan khusus juga mengenai tatanan rambut. Perbedaan tersebut diperlakukan rambut antara wanita yang sudah menikah dengan yang belum.

Bagi yang sudah menikah maka rambut wajib digelung. Sebagai pertanda bahwa wanita tersebut sudah terikat dengan pernikahan. Sementara bagi yang belum menikah, maka rambut wajib dibiarkan terurai atau setengah terlipat. Hal ini pun simbol dari wanita tersebut masih single sehingga bebas untuk memilih laki-laki.

Ini merupakan fakta menarik sekali bukan? Bahwa adat masyarakat Bali penuh dengan filosofi dan simbol yang bermakna. Dari ujung ke ujung ada makna serta esensinya. Termasuk pemilihan pakaian adat berwarna putih pun ketika akan mengikuti ritual upacara dimaksudkan sebagai perlambang kesucian. Sementara warna hitam di masyarakat Bali, biasanya akan identik dengan upacara ngaben.

2. Perayaan Sekaligus Ibadah Bersama

Upacara penganyar diketahui sebagai sebuah perayaan dari selesainya masa upacara Ngenteg Linggih. Upacara ini, dimaknai sebagai sebuah penyabran, yaitu persembahan setiap hari selama Ida Bhatara-Bhatari Nyejer. Upacara ini pun berlangsung sehari setelah selesainya masa upacara piodalan. Yakni penyambutan pertama setelah pura selesai dibangun.

Upacara suci ini merupakan sebuah ritual perayaan yang diisi dengan ibadah dan perenungan akan makna filosofis secara bersama-sama. Uniknya lagi, di masyarakat Bali ada budaya yang hampir seluruh kegiatan keagamaan maupun kemasyarakatan dilaksanakan secara bersama-sama dan secara gotong royong. Jadi nilai-nilai kebersamaan kental dan sangat kuat. 

3. Simbolisme Dari Wujud Syukur 

upacara penganyar 2 » Informasi Seputar Upacara Penganyar yang Ada di Bali
(sumber: Baliexpress.jawapos.com)

Seperti yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya, yaitu sebagai bentuk sebuah perayaan sekaligus ibadah bersama. Upacara ini juga bisa dimaksudkan sebagai sebuah simbol dari wujud syukur masyarakat Bali. Hal ini terlihat dari banyaknya barang bawaan persembahan yang dibawa dari masing masing keluarga ke ritual upacara tersebut.

Dalam upacara ini pun, ada berbagai hiburan tarian tarian yang diiringi oleh tetabuhan alat musik khas Bali. Tentu saja hal ini menambah kesan khusyu prosesi ibadah. Karena isntrumen yang dimainkan bukanlah sembarangan. Melodi-melodinya pun mengalir dalam nada yang khusus. 

4. Penyucian

Keunikan dari penganyar ini, ternyata disebut sebagai upacara penyucian. Makna penyucian pun luas, tidak hanya harfiah. Sebab bisa diartikan dari penyucian dari rasa bersalah, wabah penyakit, nasib sial dan hal-hal yang bersifat di luar logika. Nah, dalam upacara ini ada seorang pemimpin upacara yang khusus didapuk untuk ritual semacam ini. 

Jadi, setiap upakara di Bali dipimpin oleh pemuka yang disebut pedanda. Pedanda inilah yang nantinya akan berdoa dan membantu masyarakat dalam prosesi ritual. Kemudian  melakukan persembahan kepada Dewa serta ritual khusus lain sesuai keperluan upacaranya. 

Persembahan ini biasanya berupa canang dan ayam. Isi dari canang adalah sesaji yang dalam bentuk bunga dan buah dalam wadah janur. Menariknya, ini semua memiliki makna yang sakral dan bukan sekadar isian sembarangan. Sebab, ada harapan dan doa yang turut dipanjatkan bersama canang dan ayam yang dipersembahkan.

Di sinilah prosesi ritual adat keagamaan masyarakat Hindu terasa sangat sakral dan bukan sekadar ceremonial. Wujud syukur, rasa solidaritas, juga keinginan untuk bersuci memohon pengampunan juga perlindungan dari Sang Hyang Widhi sangat tinggi. Terasa dari simbolis-simblosi yang dipakai, iringan musik dan juga doa-doa yang dipanjatkan. 

Termasuk pada proses pelaksanaan penganyar ini, tidak boleh sembarangan demi mendapatkan esensi ritual. Karena upacara ini hanya diadakan di Pura-Pura tertentu saja, yang dianggap perlu. Sehingga menjadi hal yang wajar pada akhirnya. Bila kemudian tidak  banyak orang luar yang tidak tahu dan mengerti mengenai upacara penganyar ini. 

Demikianlah ulasan mengenai upacara penganyar. Sebuah upacara ritual yang tidak semua daerah di Bali melakukannya. Hal ini karena adanya hukum adat yang berbeda beda di tiap kabupaten di Bali. Dari delapan kabupaten, hanya kabupaten Buleleng dan Bangli saja yang diketahui mengadakan upacara ini.


Like it? Share with your friends!

Jarot Triguritno
Jarot is a content writer at Kintamani. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about travel