Tradisi Mbed-mbedan Desa Semate, Tradisi Tarik Tambang Unik di Bali

Tradisi Mbed-mbedan Desa Semate

via colekpamor

Di berbagai daerah di Bali memiliki tradisi-tradisi yang masih dijunjung tinggi hingga sekarang dan berlangsung secara rutin. Tradisi Mbed-mbedan Desa Semate adalah salah satunya. Tradisi ini secara rutin dilaksanakan oleh masyarakat Bali, utamanya di Desa Semate.

Dahulu tradisi mbed-mbedan ini sempat berhenti atau tidak diadakan selama puluhan tahun, namun kembali dilaksanakan pada tahun 2011, bertepatan pada tanggal 1 pada sasih kedua. Dan hingga kini mbed-mbedan diadakan setiap satu tahun sekali, bertepatan pada satu hari setelah Hari Raya Nyepi.

Uniknya Tradisi Makepung Lomba Naik Kerbau di Jembrana 1 » Tradisi Mbed-mbedan Desa Semate, Tradisi Tarik Tambang Unik di Bali

via colekpamor

Sejarah Tradisi Mbed-mbedan Desa Semate

Tradisi mbed-mbedan ini tidak terlepas dari keberadaan Desa adat Semate. Di dalam Raja Purana itu dikisahkan terdapat seorang Rsi yang bernama Rsi Mpu Bantas. Rsi Mpu Bantas melakukan perjalan suci ke sebuah hutan angker yang banyak ditumbuhi oleh kayu putih.

Di hutan itu sang Rsi bertemu dengan para keturunan Mpu Gnijaya dan bertanya pada mereka, mengapa mereka berada di hutan yang ditumbuhi kayu putih ini. Para keturunan Mpu Gnijaya pun menjawab, alasan mereka berada di hutan tersebut karena mereka tidak sependapat dengan tindakan rajanya.

Karena Rsi Mpu Bantas mengetahui jika hutan ini angker, Rsi pun menyarankan pada keturunan Mpu Gnijaya untuk membuat tempat pemujaan agar selamat. Para keturunan Mpu Gnijaya pun membuat tempat pemujaan tersebut.

baca juga: Pura Tirta Empul Tampak Siring dan Keunikan Tradisi Melukat

Setelah tempat pemujaan jadi, mereka pun berkumpul untuk menentukan nama dari pura tersebut. Dalam penentuan nama pura tersebut tidak berjalan lancar. Terjadi tarik ulur antar warga. Akhirnya Rsi Mpu Bantas lah yang memberikan nama untuk pura itu, yaitu Pura Putih Semate.

Kejadian tarik ulur tersebutlah yang menjadi cikal bakal adanya tradisi mbed-mbedan. Mbed-mbedan jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah ‘salin tarik’. Tradisi ini ada untuk menghormati Rsi Mpu Bantas.

baca juga: Desa Bayung Gede, Desa Adat dengan Budaya Tradisional Bali Aga di Bangli

Tradisi mbed-mbedan hampir seperti perlombaan tarik tambang. Namun di tradisi ini bukan menggunakan tali tambang, tetapi menggunakan ‘bun kalot’ yaitu tanaman yang menjalar yang tumbuh di setra Desa adat Semate.

Tradisi Mbed-mbedan Desa Semate Boleh Diikuti Segala Usia

Tradisi mbed-mbedan diikuti oleh segala kalangan, dari anak-anak, para remaja, orang dewasa, hingga orang tua ikut berpartisipasi. Sebelum melakukan mbed-mbedan, dimulai dengan melakukan persembahyangan di Pura Puseh/Desa. Para warga membawa saran upacara yaitu tipat bantal untuk dipersembahakan kepada Ida Betara.

baca juga: Uniknya Tradisi Makepung, Lomba Naik Kerbau di Jembrana

Mbed-mbedan akan berlangsung di Jalan Raya Kapal. Pada saat mbed-mbedan berlangsung akan ada petugas yang menggelitiki tubuh peserta. Mbed-mbedan akan selesai apabila kelompok yang berhasil menarik tali yang dipegang lawan dinyatakan menang. Selain untuk menghormati Rsi Mpu Bantas, tradis mbed-mbedan juga bertujuan untuk merekatkan tali persaudaraan, sehingga terciptalah juga kerukunan dan menghilangkan permusuhan.

Pelaksanaan Tradisi Mbed-mbedan Desa Semate

Tradisi Mbed-mbedan Desa Semate dapat anda temukan di Desa adat Semate, Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Mbed-mbedan ini hampir mirip dengan tarik tambang. Tradisi yang satu ini sudah ada sejak tahun saka 1396 atau 1474 masehi. Di saat itu terdapat pemelaspasan berdirinya Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Semate.

Begiitu banyak tradisi di Bali. Tradisi-tradis tersebut memiliki keunikan-keunikan tersendiri serta terdapat berbagai makna yang baik pula.