Tradisi Ngusaba Bukakak, Wujud Rasa Syukur Warga Bali Pada Dewi Kesuburan

Tradisi Ngusaba Bukakak

via Bali Post

Tradisi turun temurun yang dijalankan oleh masyarakat Bali begitu beragam. Tradisi Ngusaba Bukakak merupakan salah satunya. Kebiasaan ini, telah dilakukan oleh masyarakat Bali sejak zaman dulu sebagai bentuk perwujudan rasa syukur kepada Dewi Kesuburan atas karunia tanah subur dan hasil panen melimpah.

Tradisi Ngusaba Bukakak memang secara khusus kerap dilaksanakan di wilayah yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Pelaksanaan upacara ini biasanya hanya dilakukan satu kali dalam setahun. Perhitungannya, setiap purnama sasih karo. Pelaksanaan tradisi ini pun disertai dengan serangkaian pujawali yang diadakan di pura setempat.

Peran Pelaksanaan Tradisi Ngusaba Bukakak

Pelaksanaan upacara Ngusaba Bukakak memang menjadi salah satu wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di waktu yang sama, pelaksanaan tradisi ini ternyata juga sebagai sarana untuk menolak balak. Dengan begitu, musim tanam pada periode selanjutnya, diharapkan bisa menghasilkan panen yang tak kalah melimpah.

Pelaksanaan Ngusaba Bukakak untuk sarana tolak balak pernah dibuktikan oleh warga Bali di berbagai lokasi, termasuk di antaranya warga Desa Sudaji. Tokoh setempat mengatakan bahwa pernah suatu kali masyarakat memutuskan untuk tidak mengadakan tradisi ini. Namun, imbasnya ternyata begitu serius. Para petani mengalami gagal panen.

Ada berbagai penyebab yang menjadi pemicu kegagalan panen para petani. Mereka menemukan adanya puyung atau bulir tanpa isi di dalamnya. Selain itu, ada pula penyebab kegagalan panen lainnya seperti penyerangan oleh hama, kekeringan, dan semacamnya. Merujuk pada pengalaman tersebut, para tetua akhirnya memutuskan untuk mengadakan tradisi Ngusaba Bukakak secara terus menerus.

Bagi Setengah Matang Dalam Tradisi Ngusaba Bukakak

Pada pelaksanaan tradisi Ngusaba Bukakak, keberadaan babi setengah matang menjadi faktor penting. Babi yang dipersiapkan dalam acara ini juga bukan babi biasa. Babi tersebut harus memiliki warna sekujur tubuh hitam dengan ukuran yang besar. Warna hitam tersebut harus secara menyeluruh, dari ujung kaki sampai kepala.

Tradisi Ngusaba Bukakak 1 » Tradisi Ngusaba Bukakak, Wujud Rasa Syukur Warga Bali Pada Dewi Kesuburan

via Bali Express

Selain itu, babi hitam besar yang digunakan dalam acara ini juga harus sehat. Tidak boleh ada cacat secara fisik, termasuk pada bagian bulunya. Tak boleh ada sehelai bulu pada tubuh babi yang berwarna selain hitam. Syarat ini mungkin terdengar cukup sulit. Namun, menariknya warga selalu bisa menemukan babi dengan kriteria yang cocok untuk tradisi Ngusaba Bukakak.

Selanjutnya, babi yang memenuhi kriteria akan dihias dan diarak menuju ke pura desa setempat. Tak lupa, bagian kepala babi tersebut disertai dengan hiasan bunga dan dupa. Babi ini bakal digunakan sebagai persembahan. Sebelumnya, babi tersebut dipanggang dalam kondisi setengah matang.

Tradisi Ngusaba Bukakak 2 » Tradisi Ngusaba Bukakak, Wujud Rasa Syukur Warga Bali Pada Dewi Kesuburan

via Bali Post

Pemanggangan babi setengah matang juga dilakukan dengan cara unik. Pada bagian punggung, dagingnya sengaja dibuat mentah. Sementara itu, pada bagian perut, dibuat matang penuh. Setelah babi siap, diarak ke pura desa. Pada momen ini, masyarakat setempat akan merasakan suasana yang begitu magis dan religius.

Lawar Guntung Dalam Tradisi Ngusaba Bukakak

Babi yang telah sampai di pura, kemudian akan disembahyangi dan baru bisa diolah. Pengolahannya juga tidak sembarangan, hanya dibuat menjadi lawar guntung. Lawar ini dibuat dengan menggunakan bumbu jangkep yang pembuatannya menggunakan juru masak khusus yang disebut sebagai patus.

Lauk utama yang digunakan untuk lawar gunung adalah daging babi setengah matang. Lawar ini, oleh masyarakat Bali, disebut sebagai lawar yang begitu sakral. Apalagi, lawar ini tidak dijumpai di pasaran dan hanya bisa ditemukan pada pelaksanaan Tradisi Ngusaba Bukakak.