Tradisi Perang Jempana, Cara Masyarakat Bali Mengekspresikan Kebahagiaan

tradisi perang jempana

via Instagram

Beragam cara bisa dipilih sebagai metode untuk mengungkapkan rasa syukur dan bahagia. Di Bali, tepatnya di Banjar Panti Timrah yang ada di Desa Paksebali, Kabupaten Klungkung, ada cara unik dalam mengekspresikan kebahagiaan. Ada tradisi khusus yang secara rutin mereka lakukan untuk mengungkapkannya, yakni melalui tradisi perang jempana.

Tradisi perang jempana memiliki beberapa sebutan yang bisa dibilang maknanya sama hanya berbeda pengucapan. Sebutan perang jempana merupakan nama yang disematkan oleh wisatawan domestik. Masyarakat setempat, menyebut tradisi ini dengan nama Dewa Masraman. Sementara itu, wisatawan mancanegara menamai aktivitas unik ini sebagai Battle of Palanquins.

tradisi perang jempana 2 1024x482 » Tradisi Perang Jempana, Cara Masyarakat Bali Mengekspresikan Kebahagiaan

via IWB Denpasar

Asal Usul Tradisi Perang Jempana di Klungkung

Pelaksanaan tradisi perang jempana merupakan upaya masyarakat Banjar Panti Timrah dalam menjaga budaya leluhur. Apalagi, tradisi ini menjadi kegiatan yang telah dilaksanakan sejak zaman dulu. Masyarakat Banjar Panti Timrah biasanya mengadakan acara ini setiap 210 hari sekali, bertepatan dengan hari Saniscara Kliwon Kuningan atau Hari Raya Kuningan.

baca juga: Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare-kare di Desa Tenganan

Tradisi ini bermula dari adanya sekitar 18 kepala keluarga yang berasal dari Desa Adat Timbrah di Karangasem. Saat itu, mereka melakukan perjalanan menuju ke daerah perbatasan antara Karangasem dengan Klungkung. Raja Klungkung kemudian menerima kedatangan rombongan tersebut dan memperbolehkan mereka tinggal di Desa Paksebali. Selanjutnya, rombongan itu menetap secara permanen dan bahkan mendirikan Banjar Panti Timbrah di Desa Paksebali.

Pelaksanaan tradisi ini, merupakan wujud kebahagiaan yang dirasakan oleh warga Banjar Panti Timbrah. Anda tidak akan mendapati pelaksanaan tradisi ini di tempat lain. Apalagi, tradisi perang jempana merupakan tradisi yang secara khusus merupakan wujud rasa terima kasih karena telah diterima dan mendapatkan tempat di Desa Paksebali.

baca juga: Desa Bayung Gede, Desa Adat dengan Budaya Tradisional Bali Aga di Bangli

Tata Pelaksanaan Tradisi Perang Jempana di Klungkung

Seperti yang telah disebutkan, tradisi perang jempana merupakan bagian dari perayaan Hari Raya Kuningan di Desa Paksebali. Masyarakat Banjar Panti Timrah pun melaksanakan kegiatan ini secara tertib. Anda akan menemukan bahwa acara ini kerap diawali dengan aktivitas ibadah bersama yang diikuti oleh setiap warga.

tradisi perang jempana 1 » Tradisi Perang Jempana, Cara Masyarakat Bali Mengekspresikan Kebahagiaan

via Instagram

Hanya ada beberapa orang yang diperbolehkan untuk tidak berpartisipasi dalam tradisi perang jempana. Mereka adalah orang yang tidak kotor, seperti ketika ada keluarga yang baru meninggal dunia atau melahirkan. Selain itu, para pria yang berpartisipasi, diharuskan untuk bertelanjang dada.

Pada acara puncak, Anda akan menemukan para peserta mengikuti kegiatan yang disebut ngambeng jempana. Pada tahapan ini, mereka akan mengusung jempana yang kemudian diiring-iringi dengan suara tabuhan dari gong baleganjur. Mereka yang terlibat dalam tradisi perang jempana ini, umumnya kerap dalam kondisi tidak sadarkan diri.

baca juga: Tradisi Megibung Karangasem, Wajah Keunikan Budaya Tradisional Bali

Ketika ngambeng jempana berakhir, pemangku agama yang ada bakal memercikkan air suci untuk kembali menyadarkan para peserta. Selanjutnya, dewa yang disimbolkan dengan keberadaan uang kepeng serta benang tridatu, bakal dikeluarkan dair jempana untuk kembali ditempatkan di dalam pura.

Tradisi ini boleh disaksikan secara langsung oleh para wisatawan. Apalagi, momen ngambeng jempana bisa menjadi objek foto yang begitu menarik. Bakal cukup sulit untuk bisa mengabadikan momen seperti ini saat Anda tengah liburan ke Bali. Kalau ingin menyaksikan acara ini, sempatkan saja waktu liburan ke Klungkung saat Hari Raya Kuningan.