Tradisi Perang Tipat Bantal, Budaya Unik Turun-temurun dari Warga Desa Kapal Badung

Tradisi Perang Tipat Bantal

Pulau Bali selain keindahan alam dan objek wisatanya yang menjadi daya tarik bagi wisatawan, juga tradisi dan budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat yang ada di Bali ini dapat menarik para wisatawan untuk datang. Salah satu tradisi unik yang masih ada di Bali hingga sekarang adalah tradisi Perang Tipat Bantal.

Lokasi Diadakannya Tradisi Perang Tipat Bantal

Tradisi Perang Tipat Bantal 2 » Tradisi Perang Tipat Bantal, Budaya Unik Turun-temurun dari Warga Desa Kapal Badung

Tradisi Perang Tipat Bantal ini diadakan atau dilaksanakan di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tradisi unik yang satu ini sudah ada sejak tahun 1337. Dilaksanakan rutin setiap bulan keempat dalam penanggalan Bali (sasih kapat), yaitu sekitar bulan September – Oktober.

Tradisi perang Tipat Bantal atau juga dikenal dengan tradisi Aci Rah Penganggon ini berkaitan erat dengan kehidupan pertanian penduduknya, dimana tradisi perang Tipat Bantal diadakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala kehidupan yang diciptakannya dan berlimpahnya hasil panen di desa ini.

baca juga: Desa Bayung Gede, Desa Adat dengan Budaya Tradisional Bali Aga di Bangli

Seperti namanya yaitu Perang Tipat Bantal, dimana dalam tradisi ini melibatkan Tipat dan Bantal sebagai senjata mereka. Tipat atau jika anda mengenalnya adalah ketupat, merupakan olahan makanan yang berupa beras dibungkus dalam anyaman daun kelapa atau janur yang masih muda dan dibentuk menjadi segi empat.

Tradisi Perang Tipat Bantal 3 » Tradisi Perang Tipat Bantal, Budaya Unik Turun-temurun dari Warga Desa Kapal Badung

Sedangkan Bantal adalah panganan atau jajanan Bali yang terbuat dari beras ketan yang dibungkus juga dengan janur, tetapi kali ini Bantal dibentuk bulat lonjong.

Tipat dan Bantal juga merupakan sebuah lambang, dimana Tipat melambangkan energi feminim, sedangkan untuk Bantal adalah lambang dari energi maskulin. Pertemuan dari kedua hal tersebut dipercaya akan memberikan kehidupan pada semua makhluk yang ada di dunia ini.

baca juga: Pura Tirta Empul Tampak Siring dan Keunikan Tradisi Melukat

Prosesi Tradisi Perang Tipat Bantal

Tradisi perang Tipat Bantal ini berlangsung di Pura Desa Kapal. Tradisi diawali terlebih dahulu dengan upacara sembahyang bersama yang diikuti oleh seluruh warga desa. Pada saat upacara, pemangku adat akan memercikan air suci sebagai bentuk permohonan meminta keselamatan para warga peserta dari Perang Tipat Bantal.

Kemudian beberapa lelaki akan bertelanjang dada. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, berdiri saling berhadapan dan dihadapan para peserta telah siap senjata yang akan digunakan perang yaitu tipat dan bantal. Setelah aba-aba dimulai berbunyi, para pria tersebut akan mulai saling menyerang kelompok yang ada didepannya.

Suasana tradisi berlangsung begitu seru, dimana akan terlihat tipat dan bantal yang berterbangan di udara. Perang tipat bantal yang berlangsung di depan Pura Desa Kapal, berpindah tempat keluar pura. Para peserta bersiap-siap di jalan raya yang berada di depan pura, dan kembali riuh saling lempar.

Tidak hanya para peserta yang akan terkena lemparan tipat dan bantal. Para wisatawan atau penduduk yang ikut melihat juga akan terkena. Namun, meskipun para peserta terkena lemparan yang cukup keras, mereka tidak menganggapnya sebagai bentuk perkelahian. Tradisi berjalan begitu seru dan dipenuhi dengan tawa senang.

Waktu Pelaksanaan Tradisi Perang Tipat Bantal

Bagi anda yang ingin juga melihat keseruan dari tradisi Perang Tipat Bantal ini, maka anda dapat berkunjung ke Desa Kapal yang ada di Kabupaten Badung pada waktu-waktu dimana tradisi ini diadakan, yaitu sekitar bulan September – Oktober. Bali tidak hanya dapat dinikmati keindahan alamnya saja, melainkan anda juga dapat melihat kunikan dan keseruan dari tradisi-tradisi yang masih ada.

*gambar via Brenda Agustina