Upacara Ngenteg Linggih: Upacara Adat Umat Hindu di Bali


Upacara Ngenteg Linggih adalah prosesi upacara yang dilaksanakan umat hindu untuk melinggihkan (mendudukkan) dzat Tuhan dalam manifestasinya di tempat suci yang baru didirikan. Baik didirikan sebuah keluarga ataupun sekelompok komunitas masyarakat secara gotong royong. Ngenteg Linggih terdiri dari kata dasar ‘’nteg’’ yang berarti tenang dan ‘’linggih’’ yang bermakna duduk. Secara harfiah diartikan duduk dalam ketenangan. Inilah beberapa hal yang harus Anda tahu tentang upacara ini:

Makna dan Filosofi Upacara Ngenteg Linggih

upacara ngenteg linggih 1 » Upacara Ngenteg Linggih: Upacara Adat Umat Hindu di Bali
(sumber gambar: krjogja.com)

Makna harfiah duduk dalam ketenangan ditujukan kepada Ida Sang Hyang widhi Wasa dalam segala bentuk manifestasi Ista Dewata yang distanakan atau dilinggihkan di tempat suci tersebut. Manifestasi yang dimaksud merupakan kepada siapa pura tersebut ditujukan. Oleh sebab itu, proses Ngenteg Linggih ini menjelaskan kepada masyarakat umum bahwa konsep masyarakat hindu menyembah patung atau berhala adalah konsep yang keliru. Padahal konsep sebenarnya adalah masyarakat hindu menyembah Sang Hyang Widhi yang distanakan di tempat tersebut.

Rujukan mengenai upacara Ngenteg Linggih ini ada di beberapa lontar, di antaranya adalah: Lontar Sundarigama yang memuat tujuan dilaksanakannya upacara Ngenteg Linggih. Lontar Asta Kosala Kosali memuat tentang tata letak palinggih atau pura yang kelak didirikan. Lontar Bhuwana Tattwa Rsi Markandeya yang memuat tentang asal muasal tradisi upacara Ngenteg Linggih disertai aturan-aturan yang harus dijalankan ketika prosesi.

Baca Juga: Mengenal Lebih Lanjut Mengenai Kasta di Bali dalam Masyarakat

Berbicara soal manifestasi, yang dimaksud manifestasi Ida Bhatara ialah kepada siapa palinggih atau pura tersebut ditujukan. Sebagai contoh, untuk merajan keluarga atau sanggah kemulan untuk leluhur (istilah umat hindu), maka yang distanakan di sana adalah leluhur keluarga. Sementara jika pura tersebut didirikan oleh sekelompok masyarakat, maka perlu didiskusikan terlebih dahulu untuk menyepakati siapa yang akan distanakan. Intinya adalah sesuai dengan Ista Dewata yang dikehendaki di bangunan suci tersebut.

Perihal lain yang perlu disepakati sebelum melaksanakan upacara Ngenteg Linggih adalah pemilihan hari baik atau padewasan. Dalam budaya umat hindu snagatlah krusial menentukan hal itu. Terdapat dua faktor utama untuk melakukan padewasan yaitu sasih dan pakuwon. Sasih yang dianggap baik utnuk melaksanakan uapacara Ngenteg Linggih ini adalah sasih Kasah, Katiga, Kapat, Kalima, dan Kadasa. Sementara asih yang dianggap paling tidak baik ialah Jyesta Asada dalam kalender Bali. Hari baik yang ditentukan untuk melaksanakan upacara Ngenteg Linggih nantinya akan menjadi hari tetap dilakukan piodalan selanjutnya di pura tersebut.

Upacara Ngetneg Linggih merupakan sesuatu yang wajib dilakukan ketika mendirikan bangunan suci. Sebab, jika tidak diadakan upacara Ngenteg Linggih, bangunan suci tersebut akan disemayami makhluk astral. Adapun kewajiban melaksanakan upaara Ngenteg Linggih mempunyai tenggang waktu minimal tiga tahun. Jadi, setelah bangunan suci jadi, bisa tidak dilakukan secara langsung namun maksimal tiga tahun.

Tahap dan Prosesi Upacara Ngenteg Linggih

upacara ngenteg linggih 2 » Upacara Ngenteg Linggih: Upacara Adat Umat Hindu di Bali
(sumber gambar: penabali.com)

Upacara Ngenteg Linggih dilaksanakan dengan serangkaian upakara. Baik dilakukan selama satu hari saja ataupun tujuh hari. Hal tersebut dilakukan sesuai kemampuan yang melaksanakn upacara. Hal pertama yang harus dilakukan umat hindu sebelum mendirikan tempat suci adalah menyampaikan niat umat kepada Ida Bhatara yang akan dilinggihkan (distanakan) dalam prosesi Ngenteg Linggih atau biasa disebut dengan upacara Nuwasen.

Selanjutnya ada upacara Maguru Piduka yang bertujuan agar Bhatara yang akan distanakan tidak kaget dengan rangkain upacara yang akan dilakukan. Upacara Nancep Tetaring beserta kelengkapannya adalah proses selanjutnya. Kemudian dilanjutkan dengan upacara Masesepuh Piodalan. Pada upacara ini, umat hindu menghaturkan hewan kurban. Rangkaian upacara selanjutnya adalah Tawur yang kemudian langsung diteruskan upacara Melaspas, Mapedagingan, dan Ngelinggihan. Semua rangkaian upacara yang panjang tersebut diakhiri dengan Nyegara Gunung

Semua rangkaian upacara ini diakhiri dengan Nyegara Gunung. Pada beberapa desa tertentu terdapat lanjutan setelah Nyegara Gunung. Upacara tersebut adalah upacara Nyepiang Karya, semua warga melakukan brata  penyepian untuk merenungkan kembali yang telah dilaksanakan.

Setelah upacara Ngenteg Linggih selesai, akan ada upacara yang rutin dilakukan dilakukan untuk bangunan suci (pura) tersebut seperti piodalan. Bahkan ada upacara yang dilakukan ketika bangunan suci tersebut berusia 30 tahun. Nama upacaranya adalah Mupuk Pedagingan yang mempunyai tujuan untuk memupuk atau memberikan kekuatan kembali pada pura tersebut. Namun, jika keluarga atau masyarakat tidak mampu untuk melakukan upacara Mupuk Pedagingan setelah pura berusia 30 tahun, maka niatnya boleh ditunda dengan memohon izin kepada Ida Bhatara.

Pelaksanaan Upacara Ngenteg Linggih 

upacara ngenteg linggih 3 1024x682 » Upacara Ngenteg Linggih: Upacara Adat Umat Hindu di Bali
(sumber gambar: dalemprajuritculik.blogspot.com)

Dalam pelaksanaannya, upacara Ngenteg Linggih ini sangat fleksibel berdasarkan kemampuan yang membangun tempat suci (pura). Jika yang membangun kurang mampu, maka yang dilaksanakan adalah inti dari upacara tersebut. Namun, jika yang membangun berkecukupan atau mungkin sekelompok masyarakat sesuai kesepakatan bisa sampai tujuh atau Sembilan hari dengan berbagai macam kurban dalam prosesi upacara. 

Baik upacara tersebut dilakukan secara sederhana maupun megah, yang paling penting adalah esensi dari upacara tersebut. Bahkan, sebenarnya ‘’berdasarkan kemampuan’’ yang dimaksud tidak melulu soal ekonomi. Namun, ada ajaran bahwa upacara dalam agama hindu tidak ada unsur paksaan. Artinya, semua pelaksanaan dilaksanakan secara ikhlas.

Beberapa upacara yang akhir-akhir ini terlihat megah nan mewah, pada kenyataannya adalah mindset dari masyarakat sendiri. Bukan ajaran dari agama hindu. Bahkan, yang paling utama dari ajaran hindu tentang upacara adalah tidak memberatkan dalam pelaksanaannya. Sehingga tidak mengurungkan niat baik masyarakat untuk membangun bangunan suci untuk kepentingan rohani mereka.


Like it? Share with your friends!

Jarot Triguritno
Jarot is a content writer at Kintamani. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about travel