Upacara Panca Wali Krama, Tradisi 10 Tahunan di Pura Besakih Bali

Upacara Panca Wali Krama

via Sejarah Hari Raya Hindu

Pura Besakih menjadi pura paling penting dan terbesar yang ada di Pulau Bali. Di waktu yang sama, Pura Besakih juga merupakan pura yang berstatus pura kahyangan jagat yang berperan sebagai pura penjaga Bali. Oleh karena itu, tak heran kalau pura ini menjadi pusat beragam aktivitas umat Hindu di Bali.

Di pura ini, wisatawan berkesempatan untuk menyaksikan pelaksanaan upacara spesial yang tidak dijumpai di pura lain. Salah satu upacara yang dimaksudkan adalah Upacara Panca Wali Krama. Upacara keagamaan yang satu ini merupakan tradisi khusus yang hanya dilangsungkan setiap 10 tahun sekali.

Upacara Panca Wali Krama 1 » Upacara Panca Wali Krama, Tradisi 10 Tahunan di Pura Besakih Bali

via Sejarah Hari Raya Hindu

Upacara Panca Wali Krama Hanya Dilakukan Pada Tahun Saka Berakhiran “0”

Tradisi pelaksanaan Upacara Panca Wali Krama dihitung berdasarkan Tahun Saka Bali. Anda akan menjumpai pelaksanaan upacara ini ketika penanggalan Tahun Saka diakhiri oleh angka “0”. Sebagai contoh, pada tahun 2019 ini, merupakan salah satunya, karena bertepatan dengan Tahun Saka 1940.

Meski begitu, upacara ini bukanlah upacara keagamaan umat Hindu terbesar yang dilangsungkan oleh masyarakat Bali. Upacara ini menjadi upacara terbesar kedua yang dilaksanakan di Bali setelah Eka Dasa Rudra. Keduanya memiliki cakupan serta rentang waktu pelaksanaan yang berbeda.

Upacara Panca Wali Krama 2 » Upacara Panca Wali Krama, Tradisi 10 Tahunan di Pura Besakih Bali

via Babad Bali

Upacara Eka Dasa Rudra merupakan upacara yang dilangsungkan untuk penyambutan perhitungan perputaran tahun saka ketika satuan dan puluhan menjadi angka satu. Dengan perhitungan seperti itu, pelaksanaan Upacara Eka Dasa Rudra dilangsungkan setiap 100 tahun sekali.

Tujuan Pelaksanaan Upacara Panca Wali Krama

Pelaksanaan Upacara Panca Wali Krama oleh warga Bali tidak sembarangan. Upacara ini dilakukan dengan tujuan untuk mendoakan kesejahteraan bagi bumi serta makhluk hidup yang ada di dalamnya. Di waktu yang sama, upacara ini juga dilangsungkan untuk menjaga harmonitas alam semesta dan menetralkan antara alam bawah, tengah, serta atas.

Masyarakat Bali juga mengadakan acara ini dalam durasi yang begitu panjang. Pada tahun 2019, pelaksanaannya sudah dimulai sejak tanggal 22 Januari dan berakhir pada 20 Maret. Pada rentang tersebut, masyarakat Bali akan melakukan penyucian diri serta lingkungan, baik secara niskala ataupun skala. Rentang masa penyucian ini, oleh masyarakat Bali disebut sebagai masa nyengker.

baca juga: Pantai Yeh Gangga Tabanan, Pantai dengan Suasana Religius Tempat Pelaksanaan Upacara Melasti

Masa nyengker pada pelaksanaan Upacara Panca Wali Krama masyarakat Bali diwajibkan untuk menghindarkan beragam upacara keagamaan. Hanya ada 2 upacara keagamaan yang diperbolehkan selain Panca Wali Krama, yakni Upacara Dewa Yadnya dan Butha Yadnya. Upacara Ngaben juga tidak diperbolehkan. Kalaupun ada umat Hindu yang meninggal dunia, maka harus dikubur terlebih dulu.

Ada alasan kenapa jenazah tak boleh menjalani upacara ngaben saat masa nyeker pada Upacara Panca Wali Krama. Masyarakat Bali percaya bahwa pada masa ini roh manusia yang telah meninggal tidak bisa ngayah atau masuk ke pura dalam dan menjalankan tugasnya sebagai abdi dalam. Alasannya, karena masih berlangsung upacara penetralan alam semesta.

Rangkaian acara dalam Upacara Panca Wali Krama juga begitu panjang. Pada awalnya, Anda akan mendapati persiapan nyikut atau pengukuran tempat upacara. Ada pula melasti yang dilangsungkan dari Pura Besakih ke Pantai Klotok yang ada di Klungkung. Rangkaian acara ini merupakan simbol pengusungan dewa di Besakih ke Laut dan kemudian akan dibawa lagi ke Besakih lewat upacara tawur.

Menyaksikan acara ini pun jadi momen yang cukup menarik bagi para wisatawan. Apalagi, momennya hanya terjadi sepuluh tahun sekali.