Upacara Tumpek Krulut, Perayaan Hari Kasih Sayang ala Masyarakat Bali

upacara tumpek krulut

via Sejarah Hari Raya Hindu Bali

Bali memiliki banyak tradisi unik. Upacara Tumpek Krulut adalah salah satunya. Bahkan, secara khusus perayaan Tumpek Krulut ini kerap disebut sebagai cara masyarakat Bali melakukan perayaan hari kasih sayang. Tentu saja dengan cara mereka sendiri.

Sejatinya, Upacara Tumpek Krulut tidak terlalu berhubungan dengan perayaan hari kasih sayang. Pada perayaan upacara ini, masyarakat Hindu Bali sejatinya memberikan persembahan kepada Dewa Iswara yang menurut kepercayaan mereka hadir dalam bentuk manifestasi gamelan.

Oleh karena itu, Upacara Tumpek Krulut merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Bali untuk memuja Dewa Iswara tersebut. Mereka memiliki keyakinan bahwa suara cantik yang muncul dari gamelan adalah representasi dari Dewa Iswara.

upacara tumpek krulut 2 1024x682 » Upacara Tumpek Krulut, Perayaan Hari Kasih Sayang ala Masyarakat Bali

via Metro Bali

Waktu Pelaksanaan Upacara Tumpek Krulut

Upacara ini merupakan tradisi yang secara rutin dilakukan oleh masyarakat Bali. Dalam satu tahun, mereka mengadakan upacara ini selama dua kali, tepatnya setiap 6 bulan sekali. Mereka mengadakan Tumpek Krulut setiap Saniscara Kliwon, wuku krulut.

baca juga: Tradisi Pemakaman Unik Warisan Leluhur di Desa Trunyan Bali

Kalau menurut penanggalan tradisional Bali, jatuhnya perayaan ini bakal terus mengalami perbedaan. Untuk cara paling gampangnya, setiap perayaan dilakukan dengan selang waktu sekitar 210 hari.

upacara tumpek krulut 1 » Upacara Tumpek Krulut, Perayaan Hari Kasih Sayang ala Masyarakat Bali

via Sejarah Hari Raya Hindu Bali

Upacara Tumpek Krulut Sebagai Perayaan Hari Kasih Sayang

Lalu, apa hubungan antara Tumpek Krulut dengan perayaan hari kasih sayang? Terkait hal yang satu ini, dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar bernama Prof. Dr. Drs. I Made Surada, MA punya jawabannya.

baca juga: Desa Batubulan Gianyar, Dari Ukiran Khas Tradisional Hingga Tari Barong Bali Ada di Tempat Ini

Beliau mengatakan kalau kata krulut memiliki asal dari kata lulut. Kata ini secara harfiah memiliki arti kasih sayang atau tresna. Oleh karena itulah, tidak heran kalau dalam pelaksanaannya, banyak yang menyebut upacara ini sebagai perayaan hari valentine ala Bali.

Seperti halnya perayaan Hari Valentine oleh masyarakat luas, Upacara Tumpek Krulut juga dilakukan secara bebas oleh masyarakat Bali. Pada pelaksanaan upacara ini, mereka berbondong-bondong saling mengasihi.

Lebih Lanjut, Prof Surada mengungkapkan kalau suara yang memiliki peran penting dalam perayaan Tumpek Krulut juga punya tugas penting dalam hubungan antarmanusia. Dengan adanya suara, manusia bisa saling berkomunikasi. Oleh karena itu, upacara ini juga kerap digunakan sebagai pengingat agar manusia selalu bersikap baik dan kasih pada sesamanya.

baca juga: Tradisi Megibung Karangasem, Wajah Keunikan Budaya Tradisional Bali

Cara Pelaksanaan Upacara Tumpek Krulut Bali

Lalu, bagaimana cara pelaksanaan Upacara Tumpek Krulut Bali ini? Tidak terlalu rumit. Upacara utama dalam tradisi ini adalah penyucian satu set gamelan. Cara penyuciannya dilakukan dengan menyipratkan air suci ke set gamelan yang akan disucikan.

Penyucian ini bertujuan untuk menghilangkan hal-hal buruk yang menempel pada gamelan. Selanjutnya, masyarakat Bali akan memberikan sajian berupa sesajen yang merupakan simbol persembahan kepada Dewa.

Jenis sesajen yang diberikan pun beragam. Biasanya dilengkapi dengan ketupat, ajuman, tigasan, pengambean, serta peras. sesajen ini dapat diletakkan di dekat alat musik dengan tujuan agar suara gamelan tetap terdengar cantik dan indah.

Terlepas dari pelaksanaan upacara ini, terdapat hal penting yang harus diperhatikan. Hal penting tersebut adalah rasa tulus dalam melaksanakannya. Karena, rasa tulus dalam melaksanakan upacara serta memberikan sesajen merupakan bentuk nyata dari rasa kasih sayang yang dimiliki oleh setiap orang.