5 Tata Krama di Bali yang Perlu Diperhatikan dan Harus Dipatuhi

Tata Krama di Bali

Liburan ke bali tak melulu tentang bersenang-senang. Anda juga harus menaati aturan tata krama di Bali yang menjadi standar kesopanan bagi masyarakat di sana. Apalagi, ketika berlibur ke sana, Anda bertindak sebagai seorang tamu. Tentu tidak elok rasanya kalau Anda harus menjadi tamu yang tidak tahu sopan santun.

Dengan mengikuti tata krama di Bali, Anda tidak hanya berlaku sopan, tapi juga membuat pengalaman liburan ke Bali tidak terganggu oleh hal yang sepele. Alhasil, Anda bisa menghabiskan waktu liburan dengan perasaan yang menyenangkan.

5 Tata Krama di Bali

Tata Krama di Bali 2 » 5 Tata Krama di Bali yang Perlu Diperhatikan dan Harus Dipatuhi

Dari sekian banyak perilaku, ada 5 tata krama yang penting dan harus Anda patuhi selama berada di Pulau Dewata. Tata krama ini berlaku untuk semua orang, baik wisatawan yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, ataupun Budha dan Konghuchu.

1. Jangan pernah menginjak canang atau banten
Ketika berada di Bali, Anda mungkin akan melihat banyak sesajen yang ditempatkan di bagian depan bangunan atau di bawah pohon. Oleh masyarakat bali, sesajen itu disebut dengan canang atau banten, yang biasanya terdiri dari bunga dan dupa yang dibungkus menggunakan daun pisang.

Ketika mendapati banten atau canang tersebut, jangan sekali-kali berniat untuk menginjaknya. Bagi masyarakat Bali, canang merupakan bentuk penghormatan mereka kepada alam semesta. Kalaupun tidak sengaja terinja, pastikan untuk memperlihatkan gesture menyesal dan minta maaf.

2. Mengenakan kain dan selendang ketika memasuki pura
Memasuki tempat ibadah pemeluk agama lain tentu harus dilakukan dengan menghormati aturan yang ada. Ketika masuk ke area pura di Bali pun demikian. Menurut tata krama di Bali, setiap orang yang masuk ke pura harus mengenakan selendang serta kain.

Oleh karena itu, ketika memiliki itinerary berkunjung ke pura, sebaiknya sediakan selendang dan kain dari rumah. Apalagi, ketika Anda memilih datang ke pura yang jarang dikunjungi wisatawan. Namun, pada beberapa pura populer, Anda bisa menjumpai layanan sewa selendang serta kain yang bisa dimanfaatkan.

3. Jangan mengganggu prosesi ibadah
Tata krama di Bali yang penting dan perlu diperhatikan berikutnya adalah dengan tidak mengganggu prosesi ibadah umat Hindu Bali. Hal ini penting, terutama ketika Anda tengah mengunjungi upacara keagamaan yang tengah berlangsung. Saat memilih mengabadikan foto, pastikan untuk mengambil tempat yang tak mengganggu kekhidmatan para pelaku ibadah.

baca juga: Liburan Anti-Mainstream di Bali, Menginap Sekaligus Mencoba Yoga di Anand Ashram Ubud

4. Hormati Hari Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi menjadi salah satu tradisi yang harus dihormati ketika di Bali. Pada momen ini, masyarakat Bali akan menghindarkan diri dari aktivitas di keramaian. Sebaliknya, mereka akan mengurung diri di dalam rumah dan bahkan tidak menyalakan lampu di malam hari. Di waktu yang sama, pada momen ini juga ada sosok pecalang yang bertugas sebagai penjaga.

Ketika Anda tengah dalam kondisi liburan ke Bali saat Hari Raya Nyepi, pastikan untuk menghormati tradisi tersebut. Jangan menyalakan peralatan listrik ataupun lampu di tempat umum. Kalaupun tengah berada di dalam hotel, Anda memang bisa menyalakan lampu atau tv. Namun, pastikan tidak terlalu mencolok, misalnya dengan menutup tirai.

5. Tidak buang air kecil sembarangan
Hal yang terakhir, pastikan untuk tidak buang air kecil sembarangan. Apalagi, ketika memilih untuk buang air kecil di pohon yang dianggap keramat oleh masyarakat Bali. Hal ini sangat bertentangan dengan tata krama di Bali.

Foto via Klik Hotel