Tradisi Mesbes Bangke Bali, Tradisi Mencabik Mayat saat Ngaben yang Kontroversial

Tradisi Mesbes Bangke Bali

via Skanaa

Banyak tradisi menarik yang bisa ditemukan saat berkunjung ke Bali. Dari sekian banyak tradisi menarik, ada pula kebiasaan yang terlihat begitu ekstrem dan penuh kontroversi. Tradisi mesbes bangke Bali merupakan salah satunya. Pada pelaksanaan tradisi ini, masyarakat akan berlomba-lomba untuk mencabik mayat yang akan dikremasi.

Tradisi Mesbes Bangke Bali 2 » Tradisi Mesbes Bangke Bali, Tradisi Mencabik Mayat saat Ngaben yang   Kontroversial

via Kumparan

Ketika mendengar definisi tradisi ini, Anda tentu akan bergidik ngeri. Kok bisa segitunya? Sampai masyarakat tega setempat tega untuk mencabik mayat dan bahkan sampai menggigit. Pada kasus yang ekstrem, tak jarang pula sampai ada yang menaiki tubuh mayat. Biasanya, aktivitas mencabik daging mayat itu terus berlangsung sampai mereka yang berpartisipasi kelelahan.

Dengan melihat fenomena yang cukup mengerikan tersebut, tidak heran kalau tradisi mesbes bangke Bali kini mulai ditinggalkan oleh warga Bali. Hanya ada sebagian kecil masyarakat yang masih melaksanakannya. Warga Desa Tampak Siring adalah salah satunya. Hanya saja, pelaksanaan tradisi ini hanya berlaku untuk mayat yang mengikuti prosesi ngaben secara personal.

baca juga: Tradisi Pemakaman Unik Warisan Leluhur di Desa Trunyan Bali

Tradisi Mesbes Bangke Bali 1 » Tradisi Mesbes Bangke Bali, Tradisi Mencabik Mayat saat Ngaben yang   Kontroversial

via Skanaa

Asal Usul Tradisi Mesbes Bangke Bali

Tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai asal mula dari kebiasaan ini. Namun, berdasarkan penjelasan dari tetua yang berasal dari Banjar Buruam, pelaksanaan tradisi kontroversial ini berkaitan erat dengan tidak adanya bahan pengawet mayat seperti formalin yang ada di zaman sekarang.

Oleh karena itu, mayat yang akan dikremasi, mengeluarkan bau tak sedap yang begitu menyengat. Masyarakat kemudian melakukan beragam cara agar tidak terganggu dengan bau itu. Salah satu ide yang kemudian berkembang adalah dengan cara mengarak sambil memainkan tubuh mayat. Dengan begitu, mereka tidak akan terganggu dengan bau tak sedap dari mayat.

baca juga: Pura Tirta Empul Tampak Siring dan Keunikan Tradisi Melukat

Tradisi mesbes bangke Bali yang masih berlangsung pada era modern, sudah tidak terlalu ekstrem. Hal terburuk yang dilakukan ketika pelaksanaan tradisi ini, paling-paling hanya upaya untuk menggigit ataupun mencabik tubuh mayat. Kondisi ini sudah jauh berkurang dibandingkan pada tahun 1980-an.

Pada zaman tersebut, pelaksanaan tradisi mesbes bangke di Bali dijalankan dengan begitu brutal. Bahkan, mayat sampai harus dikeluarkan dari kaput. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, tak heran kalau pihak keluarga membungkus mayat secara berlapis-lapis.

Syarat Pelaksanaan Tradisi Mesbes Bangke Bali di Tampak Siring

Tradisi mesbes bangke Bali tak dilakukan sepanjang waktu sebelum ada upacara ngaben. Kebiasaan ini hanya dilangsungkan pada mayat yang menjalani upacara ngaben personal. Perlu Anda ketahui, ada pula pelaksanaan upacara ngaben yang dilakukan secara massal atau kolektif. Jadi, Anda tidak akan bisa selalu menyaksikan tradisi ini sebelum upacara ngaben dilakukan.

baca juga: Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare-kare di Desa Tenganan

Selain itu, ada hal yang harus diperhatikan saat tradisi mesbes bangke. Mereka yang berpartisipasi dalam tradisi mencabik-cabik mayat hanyalah warga setempat. Tradisi ini tidak boleh diikuti oleh mereka yang berasal dari luar wilayah tempat tinggal mayat. Kalau sampai terjadi, akibatnya bisa begitu fatal.

Ada pula kehati-hatian yang harus diperhatikan saat melaksanakan kebiasaan mencabik mayat di Bali. Apalagi, ketika mayat semasa hidup mengidap penyakit berbahaya yang bisa menular. Pada kondisi seperti ini, pihak keluarga biasanya melakukan antisipasi dengan membungkus mayat secara kuat dan berlapis. Bahkan, tak jarang mereka menggunakan rantai untuk mengikat mayat.