Buda Kliwon Pegat Uwakan, Momen Penutup Rangkaian Perayaan Hari Raya Galungan di Bali

Buda Kliwon Pegat Uwakan

via Bali Express

Perayaan Galungan menjadi momen penting yang secara rutin dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali. Dalam setiap pelaksanaannya, Galungan diadakan dengan rangkaian acara yang sangat panjang. Proses pelaksanaannya diawali dengan Tumpek Wariga dan kemudian diakhiri dengan Buda Kliwon Pekat Uwakan atau Buda Kliwon Pahang.

Pelaksanaan Buda Kliwon Pahang biasanya dilakukan pada Wuku Pahang. Pelaksanaan Buda Kliwon Pahang menjadi tanda bahwa Galungan sudah selesai. Larangan dalam melaksanakan aktivitas keagamaan juga dicabut ketika Buda Kliwon Pahang dilaksanakan. Seperti diketahui, pada rentang antara Tumpek Wariga sampai Buda Kliwon Pahang, setiap ritual yang dilakukan tidak akan diterima Tuhan.

Buda Kliwon Pegat Uwakan 1 » Buda Kliwon Pegat Uwakan, Momen Penutup Rangkaian Perayaan Hari Raya Galungan di Bali

via Bali Express

Larangan ini mencakup beragam jenis aktivitas keagamaan, terutama yang bersifat manusa yadnya. Sebagai contoh, Anda tidak akan menemukan perayaan perkawinan yang dilakukan pada rentang waktu tersebut. Meski begitu, aturan ini tidak berlaku secara absolut. Ritual keagamaan yang bersifat mendadak, seperti kematian, tetap bisa dilaksanakan, meski Buda Kliwon Pahang belum selesai.

Apa Saja yang Dilakukan saat Buda Kliwon Pegat Uwakan?

Pelaksanaan Hari Raya Galungan di Bali ditandai dengan suasana jalanan yang sangat meriah. Pada momen ini, Anda bisa menjumpai keberadaan penjor yang biasa ditempatkan di depan rumah, kantor pemerintah, tempat ibadah, dan sebagainya. Keberadaan penjor tersebut merupakan salah satu upaya dalam melambangkan keberadaan Bhatara Mahadewa yang memiliki stana di Gunung Agung.

Buda Kliwon Pegat Uwakan 2 1024x1024 » Buda Kliwon Pegat Uwakan, Momen Penutup Rangkaian Perayaan Hari Raya Galungan di Bali

via Instagram

Ketika Buda Kliwon Pahang sudah dilaksanakan, maka penjor-penjor yang terpasang itu kemudian akan diturunkan. Tidak hanya itu, penjor-penjor yang sudah diturunkan juga bakal dibakar. Setelah dibakar, masyarakat Bali biasanya didorong untuk menanam abu sisa pembakaran penjor di dalam rumah dengan disertai canang sari.

baca juga: Menyaksikan Tarian Tradisional Bali di Cafe Lotus Ubud Berbalutkan Keindahan Taman Teratai

Jadi, kalau Anda mendapati keberadaan penjor ketika Buda Kliwon Pahang telah dilaksanakan, berarti pemiliknya telah melakukan pelanggaran. Apalagi, kalau sampai penjor tersebut belum dilepas meski Galungan sudah berakhir berhari-hari atau berbulan-bulan sebelumnya. Tidak hanya penjor, perangkat lainnya seperti sampian dan tamiang juga turut dilepas.

baca juga: Hari Raya Tumpek Wariga, Cara Religius Masyarakat Hindu Bali dalam Upaya Menjaga Lingkungan

Makna Buda Kliwon Pegat Uwakan

Secara bahasa, pegat memiliki arti putus. Sementara itu, uwakan punya makna kembali. Artinya, masyarakat Hindu Bali yang sudah menjalankan Hari Raya Galungan dan Kuningan, telah memperoleh pengetahuian lewat proses pengendalian diri yang dilaksanakan selama Galungan. Selanjutnya, pengetahuan itu tak hanya cukup diketahui, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Buda Kliwon Pegat Uwakan 3 » Buda Kliwon Pegat Uwakan, Momen Penutup Rangkaian Perayaan Hari Raya Galungan di Bali

via IDN Times

Apalagi, pada perayaan Galungan, umat Hindu Bali memperoleh pembekalan dharma selama satu bulan dan 7 hari. Mereka pun didorong untuk menerapkan nilai-nilai dharma tersebut. Bahkan, konsep penerapan dharma ini tidak hanya mencakup kehidupan sehari-hari, tetapi juga kehidupan dalam menghadapi persaingan global.

baca juga: Mengenal Lebih Jauh Singaraja, Kota Besar di Masa Lalu Pusat Pemerintahan Buleleng dan Soenda Ketjil

Selain itu, hari-hari setelah pelaksanaan Buda Kliwon Pahang juga dianggap sebagai hari-hari yang baik oleh masyarakat Hindu Bali. Oleh karena itu, momen-momen setelah Galungan sering dipilih oleh umat Hindu Bali dalam melakukan beragam aktivitas keagamaan, termasuk di antaranya adalah pernikahan.

Itulah informasi mengenai cara pelaksanaan Buda Kliwon Pahang oleh masyarakat Bali. Tradisi dalam proses pelaksanaannya menjadi hal yang wajib bagi mereka. Untuk para wisatawan, ritual seperti ini juga merupakan salah satu keunikan yang tak akan dijumpai di tempat lain. Hanya ada di Bali.