Mengenal Konsep Catur Wana, Pemanfaatan Alam yang Menjadi Rahasia Warga Jatiluwih Bali

Catur Wana Jatiluwih

Kawasan Jatiluwih di Bali memiliki reputasi populer sebagai tempat wisata alam. Di sini, Anda dapat menemukan area persawahan cantik yang ditata dalam bentuk terasering. Para wisatawan sering menghabiskan waktu di Jatiluwih dengan berkeliling sawah.

Pemanfaatan alam oleh masyarakat Jatiluwih memang unik. Mereka menerapkan ajaran Tri Hita Karana secara benar. Apalagi, peyusunan terasering sawah di Jatiluwih dilakukan dengan menggunakan konsep Catur Warna. Dalam konsep Catur Warna, masyarakat Bali akan membagi wilayah hutan menjadi 4 zona.

Dengan pembagian zonasi hutan tersebut, masyarakat Bali tidak memiliki ego besar dalam memanfaatkan hasil alam. Konsep ini mendorong masyarakat lokal untuk menjaga keberlangsungan tanah Bali sehingga masih tetap bisa dimanfaatkan oleh generasi masa depan.

Catur Wana Jatiluwih 1 1024x680 » Mengenal Konsep Catur Wana, Pemanfaatan Alam yang Menjadi Rahasia Warga Jatiluwih Bali

via Jatiluwih

Lalu, apa saja yang dimaksud dengan konsep Catur Warna? Seperti yang telh disebutkan, Catur Warna membagi wilayah menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Maha Wana

Kawasan yang disebut dengan Maha Wana merupakan area spesial yang tidak diperbolehkan untuk mengalami perubahan, apapun kondisinya. Kondisi yang ada di area Maha Wana harus dipertahankan sehingga memiliki suasana yang alami. Biasanya, area ini merupakan lokasi yang steril dari keberadaan berbagai jenis bangunan.

baca juga: Menelisik Lebih Dalam Fungsi dan Peran Ayam Bagi Masyarakat Hindu Bali

Keberadaan kawasan Maha Wana tidak jauh berbeda dengan konsep pemanfataan alam secara modern. Maha Wana tidak ubahnya seperti kawasan inti. Kalau di Jatiluwih, area yang termasuk dalam kawasan Maha Wana adalah daerah hutan yang terletak di lereng Gunung Batukaru, baik yang ada di bagian barat, utara, serta selatan.

2. Tapa Wana

Zona kedua dalam Catur Warna adalah Tapa Wana. Zona ini dikenal sebagai batas yang berguna untuk menjaga agar manusia tidak merusak kawasan Maha Wana. Area Tapa Wana dikenal sebagai zona spiritual, dan kerap dimanfaatkan sebagai lokasi pendirian tempat ibadah.

baca juga: 5 Rekomendasi Hotel Dekat Puri Agung Denpasar

Saat berada di Jatiluwih, zona Tapa Wana dapat dikenali dengan cukup mudah. Cirinya adalah dengan memperhatikan ada tidaknya bangunan pura di wilayah tersebut. Beberapa pura di Jatiluwih seperti Pura Jero Taksu, Pura Luhur Rambut Sedana, Pura Luhur Bhujangga, Pura Linggarsari, ataupun Pura Resi termasuk dalam zona ini.

3. Sri Wana

Zona yang ketiga dikenal dengan nama Sri Wana, merupakan kawasan pemanfaatan alam. Di kawasan yang termasuk dalam Sri Wana, And bisa menemukan area yang digunakan untuk lahan pertanian dan perkebunan. Meski begitu, kawasan yang disebut sebagai zona produktif ini juga harus tetap alami.

Area Sri Wana inilah yang menjadi daya tarik utama dari Jatiluwih. Di sini, Anda akan menemukan kawasan sawah luas yang dikenal dengan istilah sawah abadi. Dengan pemanfaatan area Sri Wana sesuai konsep Catur Warna, kawasan ini tetap menjadi area yang lestari sekaligus bermanfaat secara ekonomi.

4. Jana Wana

Terakhir adalah Jana Wana yang merupakan area untuk wilayah perumahan dan aktivitas manusia lain. Di area Jana Wana, Anda akan mendapati wilayah perumahan warga. Tidak hanya sebagai tempat tinggal, Jana Wana juga dimanfaatkan sebagai sarana penunjang seperti jalan umum, taman, dan sebagainya.

Itulah 4 konsep dalam Catur Warna yang dijalankan oleh masyarakat Jatiluwih di Bali. Dengan penerapan konsep ini, masyarakat Jatiluwih bisa memanfaatkan alam dengan efektif. Di waktu yang sama, mereka juga tetap menjaga alam agar tetap lestari dan indah.