Sanggah Surya, Wujud Pengabdian Warga Hindu Bali Kepada Dewa Matahari

sanggah surya

Ketika Anda mendatangi atau melihat upacara keagamaan Hindu di Bali, bisa dipastikan bakal menyaksikan keberadaan pelinggih yang terbuat dari bambu. Masyarakat Bali, menyebut pelinggih tersebut sebagai Sanggah Surya, atau ada pula yang menyebutnya Sanggah Agung.

Sanggah Surya ini bisa dipastikan merupakan benda yang wajib hadir dalam setiap upacara keagamaan di Bali. Fungsi dari sanggah ini tak lain adalah sebagai simbol dari tempat linggihan Dewa Surya. Dewa Surya tak lain merupakan Dewa Matahari dalam kepercayaan para pemeluk Hindu di Bali.

sanggah surya 1 1024x683 » Sanggah Surya, Wujud Pengabdian Warga Hindu Bali Kepada Dewa Matahari

via Sobat Budiasa

Peran Sanggah Surya dalam Upacara Keagamaan di Bali

Keberadaan Sanggah Surya bisa dibilang merupakan salah satu wujud pengabdian masyarakat Hindu Bali kepada Dewa Surya. Apalagi, Dewa Surya merupakan dewa yang menjadi sumber penghidupan. Perannya sebagai Dewa Matahari, memberikan sinar di pagi hari yang membuat masyarakat Hindu Bali bisa beraktivitas dengan normal.

baca juga: Cheeky Monkey Kids Club Nusa Dua, Tawarkan Liburan di Bali yang Menyenangkan untuk Balita

Keberadaan Sanggah Agung ini juga menjadi salah satu bentuk kepercayaan bagi pemeluk Hindu Bali bahwa Dewa Surya mendatangi upacara keagamaan yang tengah dilakukan. Sanggah ini pun diyakini sebagai salah satu bentuk peran Dewa Matahari sebagai saksi dari upacara keagamaan yang tengah dilaksanakan.

Memiliki fungsi yang sangat penting upacara keagamaan Hindu di Bali, Sanggah Surya memiliki aturan penempatan yang khusus. Pada setiap upacara, Sanggah Agung hanya boleh diarahkan ke timur laut. Hal ini berkaitan erat dengan konsep Asta Kosala Kosali yang menganggap bahwa arah timur laut merupakan mata angin yang mengarah ke Dewata.

Dewa Surya dalam Kepercayaan Umat Hindu Bali

Dewa Surya yang menjadi kepercayaan memiliki peran yang sangat penting. Masyarakat Bali pun menyebut Dewa Surya sebagai Sang Hyang Siwa Raditya. Oleh karena itu, Sanggah Surya yang dibahas dalam tulisan ini, memiliki nama lain sebagai Sanggah Agung. Penyematan kata Agung tersebut merupakan salah satu bentuk pengagungan dari Sang Hyang Siwa Raditya.

baca juga: Gelang Tri Datu Khas Bali, Bukan Sekadar Aksesoris, Ada Makna Penting di Dalamnya

Karena begitu pentingnya peran Dewa Surya, penyembahan yang dilakukan oleh masyarakat Bali pun tak hanya dilakukan pada upacara keagamaan. Penyembahan serupa juga mereka lakukan setiap pagi, tepatnya pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam. Sebagai pelengkap, pelinggih juga bakal disertai dengan beragam jenis sesaji yang secara khusus ditujukan sebagai persembahan untuk Dewa Surya.

Biasanya, Pelinggih Surya yang dipakai untuk persembahan sesaji sehari-hari, ditempatkan pada pekarangan rumah. Keberadaannya berguna untuk menjaga kestabilan serta keseimbangan di dalam rumah. Stana pemujaan untuk Dewa Surya ini biasanya dibuat dengan bentuk persegi. Selanjutnya, sanggah ini disertai dengan atap lalang atau kelabang. Sanggah ini juga didesain hanya memiliki satu ruang. Bentuknya mirip dengan sanggah tawang.

baca juga: Tari Kecak Uluwatu, Wisata Budaya dengan Sajian Pemandangan Sunset Menakjubkan

Pelinggih Surya juga biasanya didesain dengan ketinggian lebih tinggi dari pinggang. Namun, ketinggian tersebut bisa disesuaikan dengan jenis upacara yang tengah dilaksanakan. Sebagai contoh, ketika pelinggih dipakai untuk pelaksanaan karya piodalan (Dewa Yadnya), ketinggian pelinggih sengaja didesain lebih tinggi dari penghuni rumah.

Karena begitu pentingnya peran sanggah ini bagi warga Bali, wisatawan harus memperlakukannya dengan baik. Jangan sampai Anda berlaku tidak sopan terhadap salah satu simbol keagamaan di Bali ini. So, jaga toleransi, ya.