Tradisi Perang Air di Bali, Cara Masyarakat Suwat Merayakan Tahun Baru

Tradisi perang air di Bali

Perayaan tahun baru kerap dilakukan dengan cara yang unik. Di Bali, tepatnya di Desa Suwat, Gianyar, Anda akan menjumpai kebiasaan mengadakan perang air yang menjadi cara merayakan tahun baru Saka. Tradisi perang air di Bali ini, oleh masyarakat setempat, tidak hanya bernilai untuk kesenangan. Di dalamnya juga mengandung simbol-simbol penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Tradisi perang air di Bali 3 » Tradisi Perang Air di Bali, Cara Masyarakat Suwat Merayakan Tahun Baru

via Merah Putih

Tradisi perang air di Bali yang dilakukan oleh masyarakat Desa Suwat ini biasanya dilangsungkan di area terbuka. Mereka kerap mengadakan acara ini di perempatan jalan. Alasannya, karena perempatan jalan dianggap sebagai simbol keseimbangan yang di dalamnya tersimpan beragam jenis energi. Hal ini penting, karena perang air yang dilakukan merupakan upaya untuk menyeimbangkan suasana.

Penyeimbangan melalui tradisi perang air di Bali ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Bisa saja muncul ketidakseimbangan karena adanya polarisasi politik ataupun bencana. Dengan adanya perang air, masyarakat Desa Suwat berharap agar mereka bisa melawan hal-hal buruk yang menyebabkan adanya ketidak seimbangan tersebut. Di waktu yang sama, aktivitas ini juga menjadi kegiatan untuk memulai resolusi awal tahun.

Tradisi Perang Air di Bali Menggunakan Air Suci

Tradisi perang air di Bali yang dilakukan oleh masyarakat Desa Suwat bukan merupakan perang air biasa. Anda perlu mengetahui bahwa air yang digunakan dalam perang ini merupakan air suci. Masyarakat biasanya mengambil air yang digunakan untuk perang air di Desa Suwat dari Tukad Melanggih yang berlokasi di bawah Pura Dalem. Pura ini berada cukup dekat dari Desa Suwat, tepatnya berada di arah tenggara.

Air yang berasal dari Tukad Melanggih, sudah lama dikenal sebagai air suci. Apalagi, nama melanggih terdiri dari 2 kata, yakni mela dan langgih yang masing-masing artinya adalah baik dan bisa dipakai. Oleh karena itu, masyarakat Desa Suwat menganggap air yang ada di Tukad Melanggih sebagai air yang baik dan bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari ataupun ritual keagamaan.

Tradisi perang air di Bali 1 » Tradisi Perang Air di Bali, Cara Masyarakat Suwat Merayakan Tahun Baru

via iNews

Menariknya lagi, air yang berasal dari Tirta Melanggih juga telah digunakan sebagai sarana penyucian sejak zaman dulu. Konon, anggota Kerajaan Gianyar, dulu menggunakan air dari mata air alami ini sebagai sarana untuk ritual keagamaan. Apalagi, air yang bisa diperoleh dari Tukad Melanggih terkenal bersih dan memiliki suhu yang begitu menyejukkan.

Tradisi Perang Air di Bali Boleh Diikuti Siapa Saja

Tradisi perang air di Bali yang dilakukan oleh masyarakat Desa Suwat terbuka untuk siapa saja. Pelaksanaan perang air ini juga sengaja ditempatkan di area terbuka yang memberi kemudahan bagi siapapun untuk berpartisipasi. Tidak ada batasan bahwa mereka yang ikut serta dalam acara ini hanya untuk masyarakat Desa Suwat atau hanya warga Bali.

Apalagi, pelaksanaan tradisi ini juga menjadi wujud masyarakat Desa Suwat, Gianyar dalam mendoakan kondisi negara Indonesia. Sebelum acara perang air dimulai, Anda akan mendapati adanya upacara keagamaan yang dilangsungkan. Tak lupa, pemuka agama yang memimpin upacara juga akan mendoakan agar situasi di negara Indonesia selallu seimbang dan terhindar dari beragam jenis bencana.

Nah, bagi Anda yang tertarik untuk mengikuti tradisi perang air di Bali ini, bisa datang secara langsung ke Desa Suwat. Acara ini merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi oleh masyarakat Desa Suwat. So, datang saja langsung ke Desa Suwat yang ada di Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali.