Tradisi Mekotek Desa Munggu, Tradisi Tolak Balak ala Warga Bali yang Telah Ada Sejak Zaman Belanda

Tradisi Mekotek Desa Munggu

via Flickr

Salah satu tradisi di Bali yang masih dijaga hingga saat ini adalah Tradisi Mekotek Desa Munggu. Tradisi Mekotek ini juga dikenal dengan Gerebeg Mekotek. Untuk dapat menyaksikan tradisi Mekotek ini anda harus datang ke Desa Munggu.

Tradisi Mekotek Desa Munggu 1 1024x685 » Tradisi Mekotek Desa Munggu, Tradisi Tolak Balak ala Warga Bali yang Telah Ada Sejak Zaman Belanda

via Flickr

Tradisi ini rutin diadakan setiap 6 bulan sekali atau 210 hari sekali sesuai dengan kalender Hindu, lebih tepatnya 10 hari setelah Hari Raya Kuningan. Tujuan adanya tradisi mekotek sendiri adalah sebagai prosesi tolak balak dan memohon keselamatan.

baca juga: Tradisi Pemakaman Unik Warisan Leluhur di Desa Trunyan Bali

Asal Mula Tradisi Mekotek Desa Munggu

Pada awalnya tradisi Mekotek dilakukan sebagai bentuk penyambutan prajurit Kerajaan Mengwi yang datang dan membawa kemenangan setelah melawan raja Blambangan, dan akhirnya berkembang menjadi sebuah tradisi hingga sekarang.

Dahulu di tahun 1915, pada jaman penjajahan Belanda, Tradisi Mekotek Desa Munggu sempat dihentikan. Dikarenakan Belana merasa khawatir jika akan ada pemberontakan. Namun, yang terjadi malah terdapat wabah penyakit, dan dengan adanya perundingan yang cukup alot, akhirnya Mekotek diijinkan kembali.

Tradisi Mekotek Desa Munggu 3 1024x577 » Tradisi Mekotek Desa Munggu, Tradisi Tolak Balak ala Warga Bali yang Telah Ada Sejak Zaman Belanda

via Tirto

baca juga: Melihat Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare-kare di Desa Tenganan

Tardisi Mekotek menggunakan sarana tongkat kayu yang kulitnya sudah dikupas dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Dulunya tradisi ini menggunakan tombak, namun untuk menghindari terjadinya peserta yang terluka, tombak diganti dengan kayu.

Tongkat-tongkat kayu dipadukan menjadi satu dengan ujung yang mengerucut hingga membentuk seperti piramid. Suara tongkat-tongkat kayu yang saling berbenturan inilah mengeluarkan bunyi “tek..tek” sehingga dikenal dengan nama Mekotek.

Peserta Tradisi Mekotek Desa Munggu

Tradisi Mekotek ini diikuti oleh seluruh warga dari 15 banjar di Desa Mengwi, mulai dari anak-anak yang berusia 12 tahun hingga orang tua yang berumur 60 tahun ikut memeriahkan perayaan yang satu ini. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana peran budaya tradisional Bali ini yang sangat penting di kalangan masyarakat setempat.

baca juga: Desa Batubulan Gianyar, Dari Ukiran Khas Tradisional Hingga Tari Barong Bali Ada di Tempat Ini

Para warga yang ikut diwajibkan untuk menggunakan pakaian adat madya. Saat siang hari telah tiba, mereka berkumpul di Pura Dalem Munggu untuk melaksanakan persembahyangan bersama dengan memberikan ucapan terima kasih atas segala hasil perkebunan dan usaha yang dijalankan. Kemudian, mereka melakukan pawai menuju ke sumber air yang terdapat di kampung ini.

Para warga dibagi menjadi beberapa kelompok dan disetiapa kelompoknya terdiri dari sekitar 50 orang. Setiap kelompok tersebut akan membawa tongkatnya masing-masing sambil diadu dan membentuk sebuah piramid. Para peserta yang memiliki keberanian dapat naik ke puncak piramid.

Lokasi Pelaksanaan Tradisi Mekotek Desa Munggu

Tradisi Mekotek yang hanya satu-satunya di Desa Mengwi meruppakan sebuah tradisi yang meriah dan unik. Desa Mengwi beradi di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Letaknya dekat dengan pusatb pariwisata Bali seperti Canggu, Seminyak, Kuta dan Legian. Banyak dari pelancong yang berada di kawasan ramai di Bali datang untuk melihat prosesi tradisi Mekotek yang hanya ada di Desa Munggu ini. Dan jangan lupa kamera Anda untuk mengabadikan tradisi unik ini.

Bagi anda yang memang sedang berlibur di Bali pada hari dimana Tradisi Mekotek Desa Munggu diadakan, tidak ada salahnya untuk menyambangi Desa Mengwi agar dapat melihat kebudayaan unik masyarkat Desa Mengwi ini. Sehingga dapat menambah keseruan dan pengalaman unik selama liburan.