Yuk Kenali Pura Kawitan, Mulai dari Jenis-jenis serta Fungsinya!


Bali memang menakjubkan! Nggak cuman geografisnya saja yang membuat pemandangan di sana seperti ‘potongan surga’, tetapi juga seni dan budaya lokal yang unik menjadi daya tarik tersendiri. Misalnya saja deretan pura yang eksotis dan sakral. Termasuk pura kawitan, pura klan dan banyak lagi lainnya. Tertarik untuk mengetahui seunik apa pura-pura ini? Mengingat Bali di setiap sudutnya akan mudah ditemui tempat ibadah satu ini. Untuk itu, mari simak ulasan berikut ini mengenai apa itu pura dan keunikannya. 

Macam Bentuk Pura 

Pura merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu, yang ditandai dengan struktur bangunan unik dan kegunaan yang khusus. Berdasarkan bentuk, pura bisa dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Yaitu, Bale Agung, Meru, Gedong, Padmasana dan Candi. 

Bale Agung ini istilah yang dipakai untuk pura dengan tujuan ibadah menyembah Dewa Brahma dan Dewi Saraswati dengan bentuk bale besar. Sedangkan Meru sendiri ditandai dengan bentuk bersusun bertingkat seperti pada Pura Ulun Danu. 

Gedong yang disebut juga dengan Pura Dale mini biasanya digunakan untuk pemujaan Dewa Siwa dan Dewi Durga, bentuknya pun umum. Sedangkankan Padmasana ini lebih general lagi. Lantaran berfungsi untuk persembahan Sang Hyang Widi Wasa.

Baca Juga: Sejarah Lengkap Pura Dalem Balikang

Terakhir adalah candi. Bangunan ini mudah dikenali karena bentuknya khas dan menjadi situs cagar budaya. Misalnya saja Candi Dieng dan banyak lagi lainnya. Unik-unik bukan? Jangan heran, sebab masyarakat Bali memang sekaya itu akan nilai seni dan budaya. 

Mengenal Pura Kawitan

pura kawitan
(sumber gambar: srikarangbuncing.com)

Seperti namanya, Pura Kawitan berasal dari kata ‘wit’ yang artinya satu garis keturunan atau satu genealogi. Sehingga, pura ini pun memiliki luas bangunan yang lebih luas karena sifatnya untuk satu ‘klan’ atau kelompok keturunan. 

Pura yang sering disebut dengan Padharman ini secara fungsi digunakan untuk memuja leluhur dari satu garis keturunan yang ada. Sehingga, Kawitan tiap keturunan ada sendiri-sendiri. 

Baca Juga: Fakta Menarik Pura Dasar Bhuana di Desa Gelgel, Bali

Lingkup kecil dari Kawitan adalah Pura Klen. Sebab pura ini digunakan untuk memuja leluhur di tingkat keluarga kecil dengan leluhur yang sama. Dalam beberapa penyebutan, pura ini disebut juga dengan Dadia Tunggal yang bisa diartikan sebagai tempat pemujaan keluarga tunggal. 

Dadia adalah nama tempat pemujaan di Pura Klen, sehingga banyak yang menyebut dengan istilah Dadia tunggal ini untuk tempat pemujaan satu ini. Selain itu, dalam satu garis keturunan atau ‘wit’ ada istilah Pura Batur atau Pura Panti.

Pura Batur atau Pura Panti ini merupakan tempat ibadah untuk beberapa Dadia tunggal yang masih bertautan. Jadi skalanya lebih luas lagi tapi masih satu kerabat besar. Istilah lain yang biasa digunakan untuk menyebutnya adalah Pura Penataran.

Baca Juga: Pura Kebo Edan, Pura Suci Tempat Berlindung Dari Segala Ilmu Hitam!

Jadi dalam Pura Kawitan mencakup beberapa Pura Batur / Pura Panti / Pura Penataran. Sedangkan dalam satu cakupan Pura Batur tersebut, terdapat beberapa Pura Klen atau Dadia tunggal itu tadi. 

Idealnya dalam setiap empat puluh keluarga atau Dadia Tunggal, ada satu Pura Panti. Hal ini sesuai yang disebutkan dalam Rontal Siwagama. Sehingga, tidak kacau strukturnya dalam satu ‘wit’ dan tidak heran juga kenapa Kawitan memiliki ukuran yang besar. Karena memang berfungsi untuk beribadah bersama-sama dalam jumlah orang yang banyak. 

Masih dalam Rontal Siwagama disebutkan bahwa dalam 20 Dadia Tunggal, ada satu Pura Ibu. Lalu dalam 10 Dadia tunggal, ada satu Pelinggih Pratiwi. Dan setiap Dadia Tungal, ada satu Pelinggih Kamulan. 

Kompleks sekali bukan? Makanya tidak heran jika berkunjung ke Bali, di setiap rumah ada pura yang memiliki fungsi berbeda-beda. Sehingga tidak sembarangan melakukan ibadah.  Ada yang berguna untuk memuja leluhur seperti pura jenis Kawitan, dan ada yang untuk memuja Hyang Widi. Ini baru urusan pura, belum urusan tata cara ibadahnya, semua penuh simbolis dan filosofi yang tinggi. 

Demikianlah bahasan mengenai Pura Kawitan dan pembagiannya. Jadi kalau ke Bali tidak bingung lagi untuk menerjemahkan berbagai nama pura yang ada. Dari sana bisa diketahui bahwa Bali memang sangat kaya agak nilai seni dan budaya. Jangankan seni dan budaya lain, bentuk dan fungsi Pura saja memiliki hierarki yang kompleks.


Like it? Share with your friends!

Jarot Triguritno
Jarot is a content writer at Kintamani. He keeps on pursuing opportunities to engage with more people through articles about travel